home Cerita Anak Alice in Wonderland: Bab 10 – Kesaksian Alice

Alice in Wonderland: Bab 10 – Kesaksian Alice

“Yah, bagaimanapun aku tak akan pergi,” tandas Alice.

Raja hilang kesabaran dan langsung menutup bukunya. “Berikan putusan kalian,” ujarnya pada para juri, dengan suara bergetar dan lirih.

“Sebentar Yang Mulia, masih ada bukti lain,” ujar Kelinci Putih, yang melompat secepat mungkin. “Kertas ini baru saja diambil. Sepertinya ini adalah surat yang ditulis oleh terdakwa untuk—untuk seseorang.” Kemudian ia membuka gulungan kertas tersebut dan menambahkan, “Ternyata ini bukan surat; melainkan serangkaian puisi.”

“Tolong Yang Mulia,” ujar Ksatria, “Bukan aku yang menulisnya dan mereka juga tak bisa membuktikan apapun, sebab tidak ada nama yang tertera di tulisan itu.”

“Itu karena kau memang berniat melakukan kejahatan, jika tidak kau pasti sudah menuliskan namamu di situ layaknya orang yang jujur,” bantah sang Raja. Dan kalimat tersebut mendapat sambutan tepuk tangan.

“Baca puisinya,” Ia menambahkan sambil menoleh pada Kelinci Putih.

Suasana langsung hening saat Kelinci Putih membacakan puisi itu.

“Sejauh ini, tulisan tersebut adalah bukti terpenting yang telah kita dengar,” tegas Raja.

“Aku tak yakin kalau puisi tersebut memiliki makna,” Alice memberanikan diri untuk menyangkal.

“Jika puisi itu tidak bermakna,” kata Raja, “kita malah terhindar dari masalah, sebab tak perlu repot-repot lagi untuk memahami isinya. Biarkan para juri langsung membacakan putusan.”

“Tidak, tidak!” sahut Ratu. “Hukuman dulu—kemudian putusannya.”

“Itu semua omong kosong!” sergah Alice dengan lantang. “Hukuman didahulukan sungguhlah tidak masuk akal!”

i021_th

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.