Cerita Rakyat Jepang: Burung Pipit yang Kehilangan Lidahnya (Shita-kiri Suzume)

Pada suatu hari hiduplah seorang lelaki tua dan seorang wanita tua. Lelaki tua itu, memiliki hati yang sangat baik, memelihara seekor burung pipit yang dipelihara dari kecil dengan sangat perhatian. Akan tetapi wanita tua itu memiliki sifat yang buruk, dan suatu hari, ketika burung pipit itu mematuk-matuk beberapa adonan pasta yang akan digunakan oleh wanita …

Cerita Rakyat Jepang: Momotaro (Persik Kecil)

Beberapa ribu tahun yang lalu, hiduplah seorang penebang kayu tua yang jujur dengan istrinya. Pada suatu pagi yang cerah lelaki tua itu berangkat pergi ke perbukitan dengan kapak kecilnya, untuk mengumpulkan seikat ranting-ranting kayu, sementara istrinya pergi ke sungai untuk mencuci pakaian-pakaian kotor. Ketika ia sampai ke sungai, ia melihat satu buah persik mengambang terbawa …

Alice in Wonderland: Bab 10 – Kesaksian Alice

“Aku di sini!” teriak Alice. Ia kemudian melompat dengan buru-buru hingga mengacaukan tempat duduk juri, dan para juri jatuh jumpalitan dari kursinya. “Oh, maafkan aku!” ia berseru dengan nada cemas. “Sidang pemeriksaannya tidak bisa dilanjutkan, sebelum para juri kembali duduk dengan benar—semuanya seperti sedia kala,” tegas sang Raja sambil menatap Alice dengan geram. “Apa yang …

Alice in Wonderland: Bab 9 – Siapa yang Mencuri Kue Tart?

Raja dan Ratu Hati langsung duduk di singgasana setelah mereka tiba, dikelilingi banyaknya kerumunan yang berdesak-desakan— terdiri dari golongan berbagai jenis burung dan hewan buas, beserta satu set kartu remi juga (iring-iringan sang Ratu): si Ksatria berdiri di hadapan mereka, tangannya dirantai, dan didampingi dua pengawal; di sebelah Raja ada Kelinci putih yang membawa terompet …

Alice in Wonderland: Bab 8 – Arena Kriket Sang Ratu

Ada tanaman mawar besar yang tumbuh di dekat pintu masuk taman itu; bunga-bunganya berwarna putih, tapi terlihat ada tiga tukang kebun yang sibuk mengecatnya menjadi merah. Tak lama kemudian mereka menyadari keberadaan Alice, saat ia berdiri mengamati mereka bekerja. “Bisakah kalian jelaskan, mengapa mawar-mawar ini dicat?” Tanya Alice dengan takut-takut. Five (kartu remi angka 5) …

Alice in Wonderland: Bab 7 – Acara Minum Teh yang Gila

Ada sebuah tatanan meja di bawah pohon tepat di depan rumah. March Hare (Kelinci Maret) dan Hatter (Pembuat topi) terlihat sedang menikmati teh di sana;  sementara tikus Dormouse duduk diantara mereka dan tertidur pulas. Meja tersebut sesungguhnya besar, namun mereka bertiga duduk merapat di salah satu sudutnya. “Sudah penuh! Tidak ada ruang lagi!” teriak mereka …

Alice in Wonderland: Bab 6 Babi dan Merica

Selama beberapa waktu Alice berdiri menatap rumah tersebut,  tiba-tiba terlihat ada seorang pelayan berseragam rapi yang muncul dari arah hutan (jika ditinjau dari mukanya, pelayan itu berkepala ikan)— ia mengetuk pintu dengan buku jari keras-keras. Kemudian ada pelayan lain (yang juga berseragam) membukakan pintu itu, wajahnya bulat dan bermata besar seperti kodok. Mula-mula pelayan berkepala …

Cerita Dongeng Hans Christian Andersen: Perbuatan Orang itu Selalu Benar

Aku akan menceritakan sebuah kisah yang dulu kudengar saat masih kecil. Setiap kali merenungkannya, bagiku cerita ini semakin menarik; Ya, karena kisah juga bisa diibaratkan dengan kebanyakan manusia—semakin baik ketika bertambah tua. Jika kalian pernah ke daerah pedesaan, pasti sudah tahu rumah kuno beratap jerami yang bagian atasnya ditumbuhi lumut dan rumput-rumput kecil. Pada pojokan …

Alice in Wonderland: Bab 3 – Caucus-race dan Cerita yang Panjang

Mereka seperti gerombolan aneh yang berkerumun di tepi kolam— burung-burung dengan sayap kumal, hewan-hewan lain dengan bulu dekil; semua basah kuyup, terlihat kesal dan tidak nyaman. Tentu saja, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah: ‘bagaimana supaya tubuh mereka kembali kering?’. Mereka merembukkan hal tersebut dan beberapa saat kemudian, Alice tampaknya sangat terbiasa mengobrol akrab dengan …

Alice in Wonderland: Bab 2 – Kolam Air Mata

“Semakin aneh dan aneh saja!” teriak Alice (ia begitu terkejut hingga sesaat dirinya agak lupa cara berbicara dengan benar). “Sekarang tubuhku meregang bagaikan teleskop terbesar yang pernah ada! Sampai jumpa, kaki! (Alice semakin tumbuh hingga kesulitan melihat kakinya sendiri. Ini adalah efek dari kue.) Oh, kaki kecilku yang malang, siapa nanti yang akan memakaikan sepatu …