home Cerita Anak Cerita Dongeng Hans Christian Andersen: Perbuatan Orang itu Selalu Benar

Cerita Dongeng Hans Christian Andersen: Perbuatan Orang itu Selalu Benar

“Wah sapi itu pasti bisa menghasilkan susu lezat, aku yakin.” petani tua bicara sendiri. “Ini akan menjadi pertukaran yang bagus: seekor sapi dengan kuda. Halo yang di sana! kau yang naik sapi,” teriaknya. “Ada yang ingin kusampaikan. Aku berani bertaruh bahwa kuda lebih berharga dibanding sapi, tapi aku tak peduli hal itu karena sapi akan lebih berguna bagiku, jadi jika kau mau, kita akan bertukar.”

“Tentu saja aku mau,” jawab pria itu.

Maka pertukaran dilakukan dan keinginan petani tua sudah terwujud, harusnya mungkin ia segera pulang karena harapan untuk menukarkan kuda sudah tercapai. Namun karena tadi berniat pergi ke pekan raya, ia pun memutuskan untuk tetap ke sana, sekiranya hanya untuk melihat-lihat. Akhirnya ia pergi ke kota, melangkah kuat sambil menuntun sapinya. Tak lama kemudian berpapasan dengan seorang pria penggembala domba. Dombanya gemuk dengan bulu-bulu halus di punggungnya.

“Aku pasti senang jika memiliki domba itu,” petani tua bicara sendiri. “Ada rumput berlimpah untuknya di dekat pagar dan ketika musim dingin kami bisa membawanya masuk ke rumah. Mungkin akan lebih bermanfaat jika memiliki domba daripada sapi. Haruskah aku menukarnya?”

p223i

Pria si pembawa domba ternyata bersedia dan pertukaran dilakukan dengan sangat cepat. Kemudian petani tua melanjutkan perjalanan dengan domba itu. Sesaat setelah mulai berjalan, ia berpapasan dengan seorang pria dari arah sawah yang membawa angsa besar.

“Berbobot sekali angsa yang kau bawa itu!” kata petani tua; “Bulunya banyak dan gemuk, sangat cocok jika diikatkan tali dilehernya, atau dia juga bisa bermain-main di genangan air rumah kami. Angsa itu akan sangat berguna untuk istriku, dia akan mendapat berbagai macam keuntungan darinya. Istriku sudah mengatakan beberapa kali, ‘Andai saja sekarang kita punya angsa!’ ini adalah sebuah kesempatan, dan jika boleh aku akan membawakan itu untuknya. Haruskah kita bertukar? Akan kuberikan domba sebagai pertukaran dan terimakasih atas kesepakatannya.”

Pria itu tidak keberatan sama sekali, sehingga penukaran dilakukan dan petani tua menjadi pemilik angsa. Kali ini ia sudah hampir tiba di kota. Keramaian di jalan raya meningkat secara berangsur-angsur dan terlihat banyak orang yang membawa sapi. Mereka melintas di jalan setapak dekat pagar dan sesampai di palang pintu tol mereka lurus berjalan di ladang kentang milik penjaga tol. Di sana terdapat seekor ayam yang berjalan kesana-kemari dengan ikatan tali di kakinya (karena dikhawatirkan takut keramaian dan kabur atau hilang). Bulu ekornya pendek, kedua matanya berkedip dan nampak licik, sambil bersuara “Petok, petok.” Entah apa maksud kotekan itu, tak bisa kujelaskan padamu; tetapi ketika petani tua melihatnya, ia langsung berpikir “Wah itu ayam terbaik yang pernah kulihat selama ini; bahkan menurutku lebih baik dibanding seperindukan ayam betina milik pendeta. Mungkin aku senang jika memiliki ayam itu. Ayam selalu memakan butir-butir padi yang tercecer di tanah dan hampir selalu mencari makan sendiri. Aku rasa ini akan menjadi pertukaran yang pas dengan angsaku. Haruskah kita bertukar?” petani tua bertanya pada penjaga tol.

“Bertukar?” pria itu mengulangi perkatannya; “Baiklah, aku rasa tidak ada salahnya.”

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.