home Cerita Anak, Hikayat/Cerita Rakyat Cerita Rakyat Jepang: Burung Pipit yang Kehilangan Lidahnya (Shita-kiri Suzume)

Cerita Rakyat Jepang: Burung Pipit yang Kehilangan Lidahnya (Shita-kiri Suzume)

Pada suatu hari hiduplah seorang lelaki tua dan seorang wanita tua. Lelaki tua itu, memiliki hati yang sangat baik, memelihara seekor burung pipit yang dipelihara dari kecil dengan sangat perhatian. Akan tetapi wanita tua itu memiliki sifat yang buruk, dan suatu hari, ketika burung pipit itu mematuk-matuk beberapa adonan pasta yang akan digunakan oleh wanita itu untuk mengkanji kain linennya, wanita itu menjadi sangat marah, dan memotong lidah burung pipit dan membiarkannya terbang.

Ketika lelaki tua pulang ke rumah dari perbukitan dan menemukan bahwa burung itu telah terbang, ia bertanya mengapa hal itu terjadi, dan wanita tua itu menjawab bahwa dia telah memotong lidahnya dan melepaskannya, karena burung itu telah mencuri pasta adonan kanjinya. Kini setelah mendengar kisah mengerikan tersebut lelaki tua itu menjadi sangat sedih, dan berkata dalam hati:”Sialan! Kemana burung pipitku pergi? Kasihan! Kasihan burung pipit dengan lidah terpotong! Dimana rumahmu sekarang?” dan ia berjalan kesana kemari, mencari peliharaannya, dan menangis:”Tuan Burung Pipit! Tuan Burung Pipit! Kemana kau pergi?”

Suatu hari, di kaki sebuah gunung, lelaki tua itu bertemu dengan burung pipitnya yang hilang, dan ketika mereka saling menyapa dengan bahagia, sang burung pipit menuntun lelaki tua itu ke rumahnya, dan memperkenalkannya pada istri dan anak-anaknya, menyajikan berbagai jenis makanan yang lezat dan memperlakukannya dengan penuh keramahan.
“Silakan menerima sajian kami yang sederhana,” kata burung pipit itu. Walaupun sangat miskin seperti ini, anda sangat ditunggu disini. ”
“Burung pipit yang sangat sopan!” jawab sang lelaki tua, dan ia tetap menjadi tamu burung pipit itu untuk waktu yang cukup lama, dengan setiap hari berpesta meriah. Akhirnya lelaki tua itu berkata bahwa ia harus pergi dan pulang ke rumah; dan sang burung pipit, menawarkan dua keranjang anyaman, memohon padanya untuk membawa keranjang-keranjang tersebut sebagai hadiah perpisahan.
Salah satu keranjang terasa berat, dan lainnya sangat ringan; sehingga sang lelaki tua, mengatakan bahwa karena ia sudah lemah dan berumur maka ia hanya akan menerima keranjang yang ringan, memanggul keranjangnya, dan berjalan susah payah ke rumah, meninggalkan keluarga burung pipitbersedih berpisah dengannya.
Ketika sang lelaki tua sampai di rumah, wanita tua tersebut menjadi sangat marah, dan mulai mengomel dengan berkata:”Baiklah, dan coba katakan ada dimana kau berada selama ini? Bagus ya, sungguh, keluyuran sudah usia seperti ini!”
“Oh!” jawab lelaki itu,”Selama ini aku mengunjungi sang burung pipit, dan ketika aku hendak pergi, mereka memberiku keranjang anyaman ini sebagai hadiah perpisahan.” Ketika mereka membuka keranjang tersebut untuk melihat apa isinya, ternyata keranjang itu penuh dengan emas, perak dan barang berharga. Ketika sang wanita tua, yang sama serakahnya seperti saat dia marah, melihat seluruh kekayaan yang terletak dihadapannya, segera merubah omelannya, dan tidak dapat menahan rasa sukacita.
“Aku akan pergi dan memanggil burung pipit itu juga,”katanya, ”dan mendapatkan hadiah yang indah itu”. Maka wanita itu menanyakan lelaki tua itu jalan menuju rumah burung pipit, dan segera memulai perjalanannya.
Mengikuti arahnya, wanita itu akhirnya bertemu dengan burung pipit yang lidahnya terpotong, dan berteriak :”Akhirnya bertemu! Akhirnya, Tuan Burung Pipit! Aku telah menunggu lama dan senang bertemu denganmu.” Wanita itu berusaha untuk merayu dan membujuk sang burung pipit dengan kata-kata yang lembut.
Burung pipit itu tidak bisa menghindar untuk mengundang wanitatua itu ke rumahnya; tetapi tidak menyajikan apa-apa untuk berpesta, dan tidak mengatakan apa-apa tentang hadiah perpisahan. Wanita itu, bagaimanapun, tidak mau menunda; sehingga ia meminta sesuatu untuk dibawanya pergi untuk mengenang kunjungannya tersebut.
Burung pipitmengeluarkan dua keranjang yang sama seperti sebelumnya, dan wanita tua serakah itu memilih keranjang yang lebih berat dari keduanya, dan dibawanya pulang. Akan tetapi ketika ia membuka keranjang untuk melihat apa yang ada di dalamnya, bermacam-macam hantu dan jin melompat keluar dari keranjang, dan mulai menyiksa wanita itu.
Sang lelaki tua akhirnya mengangkat seorang anak laki-laki, dan keluarga itu menjadi kaya dan sejahtera. Lelaki tua yang sangat berbahagia!
Diterjemahkan oleh Diah Lestariningsih © 2015 (Dilarang menyalin dan mempublikasikan ulang terjemahan ini tanpa izin).

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.