home Cerita Pendek Cerpen Anton Chekhov: Kunjungan Seorang Dokter (A Doctor’s Visit)

Cerpen Anton Chekhov: Kunjungan Seorang Dokter (A Doctor’s Visit)

“Saya tidak menemukan ada sesuatu yang khusus pada masalah ini,” katanya, ditujukan pada si ibu saat ia keluar dari kamar tidur. “Jika putri anda sedang dirawat oleh dokter di pabrik ini, biarkan ia melanjutkannya. Pengobatan yang dilakukan sejauh ini benar-benar sempurna, dan saya tidak melihat adanya alasan untuk mengganti dokter anda. Mengapa diganti? Ini hanyalah masalah biasa; tidak ada kesalahan yang serius.”

Ia berbicara dengan tegas sambil mengenakan sarung tangan, sementara Madame Lyalikov berdiri tanpa bergerak, dan menatapnya dengan beruraian air mata.

“Saya punya setengah jam untuk mengejar kereta pukul 10:00,” katanya. “Saya harap saya tidak terlambat.”

“Dan tidak bisakah anda tinggal?” tanyanya, dan air mata menetes di pipinya lagi. “Saya malu telah menyusahkan anda, tetapi jika anda memang begitu baik …. Demi Tuhan,” ia melanjutkan dengan suara rendah, melirik ke arah pintu, “Tinggallah untuk malam ini dengan kami! Hanya dia yang saya punya … putri saya …. Dia membuat saya takut tadi malam; saya tidak bisa menghentikannya…. Jangan pergi, saya mohon! … ”

Ia ingin mengatakan bahwa ia punya banyak pekerjaan di Moskow, bahwa keluarganya mengharapkan dia pulang; Sungguh tidak menyenangkan baginya untuk menghabiskan sore dan sepanjang malam di sebuah rumah aneh dengan sia-sia; tapi ia menatap wajahnya, menghela napas, dan mulai melepas sarung tangannya tanpa kata.

Semua lampu dan lilin dinyalakan di ruang tamu dan di ruang makan untuk menghormatinya. Ia duduk di depan piano dan mulai membalikkan badan ke arah musik. Lalu ia melihat gambar-gambar di dinding, pada potret. Gambar-gambar, lukisan minyak dalam bingkai emas, adalah pemandangan Crimea – laut berbadai dengan kapal, seorang biarawan Katolik dengan gelas anggur; mereka semua kusam, cat yang licin, tanpa tanda berbakat di dalamnya. Tidak ada satupun wajah yang menarik di antara potret, selain tulang pipi yang luas dan pandangan mata yang mempesona. Lyalikov, ayah Liza, memiliki dahi yang rendah dan ekspresi percaya diri; seragamnya duduk seperti karung pada sosoknya yang kampungan dan besar; pada dadanya terdapat medali dan lencana Palang Merah. Ada sedikit tanda budaya, dan barang mewah yang tidak masuk akal serta serampangan, dan yang sama tak cocoknya dengan seragam itu. Lantai dengan cat cemerlang mereka yang sangat mengganggu, pengilap pada lampu gantung yang menjengkelkan, dan ia teringat untuk beberapa alasan kisah seorang saudagar yang selalu pergi ke pemandian dengan medali di lehernya ….

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.