home Novel Fantasi FRANKENSTEIN KARYA MARY SHELLEY: BAB 1

FRANKENSTEIN KARYA MARY SHELLEY: BAB 1

Beberapa bulan telah berlalu, kondisi kesehatan ayahnya semakin memburuk; Caroline lebih banyak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjaga ayahnya; penghasilannya menurun; dan pada bulan kesepuluh ayahnya meninggal dalam pelukannya, membuatnya hidup sebatangkara sebagai seorang pengemis. Dia merasa sangat terpukul dengan kepergian ayahnya dan berlutut disamping peti jenazah sang ayah bercucuran air mata saat ayahku memasuki kamarnya. Ayahku datang bagaikan penyelamat jiwa bagi gadis miskin seperti Caroline yang membutuhkan perlindungannya. Setelah prosesi pemakaman Beaufort selesai, ayahku membawa Caroline pindah ke Jenewa dan menitipkannya di salah satu relasinya. Dua tahun kemudian, Caroline resmi menjadi istrinya.

Usia ayah dan ibuku memang terpaut cukup jauh, namun usia tak menghalangi mereka untuk bersatu dalam ikatan kasih sayang yang begitu mendalam. Dalam benak ayahku tertanam rasa keadilan yang tulus yang membuatnya teguh dalam rasa cinta yang begitu kuat. Perasaan ini barangkali muncul akibat penyesalannya dimasa lalu yang terlambat datang kepada sahabat yang sangat dikasihinya. Ayahku menyiratkan rasa syukur dan kekaguman yang dalam akan hubungan percintaannya dengan ibuku. Hubungan cinta yang jauh berbeda dengan hubungan percintaan muda-mudi pada umumnya. Hubungan ayah dan ibuku bisa dikatakan sebagai hubungan percintaan yang lahir sebagai bentuk penghormatan ayahku terhadap kebaikan-kebaikan ibuku dan sebagai kompensasi atas derita dan nestapa yang ibuku alami selama ini dalam merawat sahabatnya. Hubungan yang membuaat ayahku tak dapat mengungkapkan kasih sayangnya yang begitu dalam terhadap ibuku. Ayahku melakukan segalanya untuk memenuhi keinginan ibu dan sealu membuatnya nyaman. Ayahku selalu berusaha melindungi ibuku laksana tukang kebun yang melindungi tanaman antiknya dari terpaan angin dan selalu berusaha membuat ibuku tersenyum bahagia. Kesehatan jiwa dan raga ibuku terguncang akibat peristiwa yang dia alami. Selama dua tahun sebelum menikah, ayahku secara bertahap meletakkan jabatannya sebagai pejabat publik. Setelah itu, mereka berpetualang ke Italia untuk merasakan hangatnya cuaca disana. Perjalanan yang hangat dan menyenangkan ini mampu membuat ibuku bengkit dari keterpurukannya di masa lalu.

Dari Italia, mereka mengunjungi Jerman dan Paris. Aku, putra sulung mereka, lahir di Naples dan selalu membersamai perjalanan mereka. Selama beberapa tahun, aku menjadi anak tunggal. Semakin dalam ikatan cinta yang terjalin diantara mereka, membuatku dilimpahi curahan kasih sayang yang berlimpah ruah dan tak kenal lelah dari orang tuaku. Belaian lembut ibuku dan senyuman indah ayahku adalah kenangan pertama yang kudapatkan saat bersama mereka. Aku adalah hiburan dan idola mereka, sesosok makhluk kecil lemah tak berdosa yang dikirimkan dari surga untuk menghadirkan kebaikan, untuk diarahkan masa depannya apakah menuju bahagia atau derita, semua bergantung pada mereka. Dengan kesadaran yang mendalam akan betapa bersyukurnya orangtuaku memiliku serta dengan luapan kasih sayang yang membara diantara mereka,dapat dibayangkan setiap detik dari masa kecil yang kulalui dipenuhi oleh pelajaran tentang kesabaran, kemurahan hati, dan pengendalian diri layaknya  seutas tali sutra yang membimbingku dan aku sangat menikmatinya. Untuk waktu yang lama, semua kasih sayang mereka tercurah hanya untukku.

Ibuku sangat ingin mmiliki seorang putri, namun samoai detik ini, aku tetap menjadi anak tunggal mereka. Saat aku berusia lima tahun, orangtuaku menghabiskan liburan selama sepekan di tepi danau Combo. Kebaikan hati mereka, mendorong orang tuaku sering mengunjungi desa-desa yang miskin. Bagi ibuku hal seperti ini bukan hanya sebuah tugas, melainkan sebuah keharusan, sebuah hasrat – mengingatkan dirinya akan penderitaannya di masa lalu dan bagaimana rasanya terangkat dari lubang derita—untuk bertindak sebagai malaikat penyelamat bagi mereka yang dirundung derita.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.