home Novel Fantasi FRANKENSTEIN KARYA MARY SHELLEY: BAB 1

FRANKENSTEIN KARYA MARY SHELLEY: BAB 1

Di suatu perjalan menuju sebuah gubuk di kaki bukit, mereka dihadapkan pada pemandangan yang begitu memilukan melihat sekumpulan anak yang tidak berpakaian lengkap membicarakan kemiskinan. Suatu hari, saat ayahku pergi ke Milan, aku menemani ibuku mengunjungi gubuk ini. Ibuku bertemu dengan seorang petani dan istrinya yang bekerja keras membanting tulang untuk memberi makan lima orang anak yang kelaparan. Dari kelima anak tersebut, ada seorang anak yang menarik perhatiannya. Anak ini tampak sangat mencolok dibandingkan dengan keempat anak lainnya.Jika keempat anak lainnya memiliki bola mata hitam dan bertubuh besar, anak ini bertubuh kecil dan berkulit putih. Meski pakaiannya compang-camping, rambut emasnya terurai bagaikan sebuah mahkota. Alis matanya tegas dan tebal, bola matanya secerah langit biru, bibir dan bentuk wajahnya sangat ekspresif dan manis membuat semua orang berfikir anak ini datang dari surga. Melihat ketertarikan ibuku terhadap anak perempuan ini, sang istri dari petani miskin itu pun menceritakan sejarah hidup sang gadis kecil kepada ibuku.  Gadis kecil ini bukanlah putri kandung mereka, namun putri dari salah seorang bangsawan Milan. Ibunya adalah orang jerman yang meninggal saat melahirkannya ke dunia. Pada saat itu, sepasang suami istri ini baru saja menikah dan anak pertama baru saja akan lahir. Sang ayah tercatat sebagai salah Seorang pejuang dalam gerakan schiavi ognor frementi, sebuah gerakan yang memperjuangkan pembebasan provinsi Lombardy dari cengkeraman Austria dan kembali ke pangkuan Italia. Ayahnya menjadi salah satu korban dalam gerakan tersebut. Sampai saat ini,keberadaannya tidak diketahui, apakah ia sudah meninggal atau menjadi tawanan Austria. Seluruh harta bendanya disita; menjadikan gadis kecil ini yatim patu dan pengemis. Setelah itu, dia ini hidup bersama orang tua angkatnya di gubuk sederhana mereka dan tumbuh layaknya bunga mawar diantara semak belukar. Sepulang dari Milan, ayah melihatku bermain bersama seorang gadis kecil di aula vila kami. Seorang gadis kecil yang kecantikannya melebihi batu rubi, wajahnya memancarkan cahaya, dan gerak tubuhnya yang luwes bagaikan semilir angin di bukit. Dengan seijin ayahku, ibu membujuk orang tua angkat gadis itu agar menyerahkan hak asuh gadis kecil tersebut kepadanya. Kedua orang tuaku sangat menyukai gadis manis ini. Kehadirannya merupakan berkah tersendiri bagi mereka, dan rasanya tidak adil jika gadis itu tumbuh dalam kemiskinan saat Tuhan telah memberikannya perlindunganNya yang begitu kuat pada gadis ini. Mereka berkonsultasi dengan pendeta desa setempat dan akhirnya Elizabeth Lavenza menjadi penghuni baru di rumahku—lebih dari seorang adik perempuan bagiku—teman cantik dan mengagumkan yang menemani hari-hariku dan mengisi kebahagiaanku.

Semua orang menyayangi Elizabeth. Dengan semua sifat menakjubkan yang melekat didirinya, aku menyebutnya sebagai kebanggan dan kebahagiaanku. Suatu malam sebelum ibuku membawanya kerumah, Ibu berkata dengan gembira “aku punya hadiah yang cantik untuk Victorku, besok dia akan mendapatkannya. Dan ketika keesokan harinya ibuku membawa Elizabeth pulang kerumah sebagai hadiah yang ia janjikan, aku, dengan kekanak-kanakan benar-benar serius menganggap Elizabeth adalah milikku seutuhnya, untuk dilindungi, dicintai dan dibahagiakan. Aku sangat bersyukur memilikinya. Tidak ada kata yang mampu mendefinisikan hubungan yang terjalin antara aku dan Elizabeth, bagiku dia lebih dari seorang adik, sampai mati, dia akan selalu menjadi milikku seorang.

Diterjemahkan oleh Rohmita Khoirun Nisaa’ © 2015 (Dilarang menyalin dan mempublikasikan ulang terjemahan ini tanpa izin).

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.