home Novel Fantasi Frankenstein karya Mary Shelley: Bab 3

Frankenstein karya Mary Shelley: Bab 3

Dia meninggal dengan tenang dan bahkan dalam kematian pun air mukanya tetap memancarkan kasih sayang. Aku tak perlu melukiskan perasaan mereka yang pertalian sayangnya telah dikoyak-koyakan oleh kejahatan yang tak termaafkan itu,  kehampaan yang dengan sendirinya merasuk dalam jiwa serta keputusasaan yang terlihat di raut wajahnya.

Perlu waktu yang lama untuk meyakinkan diriku bahwa dia yang kami lihat setiap hari dan selalu ada di setiap langkah hidup kami telah tiada untuk selamanya. Pancaran sinar kasih di matanya telah padam dan suarannya yang sangat akrab di telinga menjadi sunyi, takkan pernah terdengar lagi. Beginilah gambaran hari pertama, tapi ketika masa kehilangan membuktikan nyatanya kejahatan, maka kepahitan duka cita yang sebenarnya baru dimulai.

Namun tangan kasar siapakah yang telah mengoyak-ngoyakan hubungan kasih sayang ini? Dan mengapa aku harus menceritakan semua duka cita yang telah dan harus aku rasakan?. Waktu dimana duka cita hanya dirasakan sebagai sebuah keikutsertaan dibandingkan kebutuhan akhirnya tiba, senyum yang tersungging di bibir  tak dibuang walaupun boleh jadi dianggap sebagai ketidaksopanan. Ibuku telah meninggal, tapi kami masih punya tugas yang harus kami lakukan. Kami harus melajutkan perjalanan yang masih tersisa dan belajar memikirkan diri kami sendiri selama perampas itu belum tertangkap.

Keberangkatanku ke Ingolstadt yang tertunda karena kejadian ini telah di tentukan kembali. Ayahku memberikan kelonggaran beberapa minggu untuku. Bagiku itu terlihat seperti larangan untuk segera meninggalkan ketenangan  di rumah duka, berhubungan dengan kematian dan menyibukan diri dengan kehidupan yang rumit. Kepedihan ini adalah hal yang baru untukku tapi tak begitu menggusarkanku. Aku merasa enggan untuk meninggalkan mereka yang masih bersamaku dan yang terpenting aku ingin melihat Elisabethku yang manis terhibur.

Dia sungguh menutupi kesedihannya dan berusaha melindungi kami semua. Dia menatap hidup dengan mantap dan memikul kewajibannya dengan keberanian dan semangat. Dia mencurahkan dirinya untuk mereka yang telah dia ajarkan untuk memanggil paman dan sepupuh-sepupuhnya. Tak pernah dia sememikat seperti saat ini, ketika dia memancarkan kembali matahari disenyumnya dan menghabiskannya bersama kami. Bahkan dia melupakan kesedihannya sendiri dalam usahanya untuk membuat kami lupa.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.