home Novel Fantasi Frankenstein karya Mary Shelley: Bab 3

Frankenstein karya Mary Shelley: Bab 3

Hari keberangkatanku akhirnya tiba. Clerval menghabiskan malam terakhir bersama kami. Dia telah berusaha mendesak ayahnya agar mengijinkannya menemaniku dan menjadi teman sekolahku, tapi semuanya sia-sia. Ayahnya adalah seorang pedagang yang berpikiran sempit, semboyan kemalasan dan perusak cita-cita serta ambisi anaknya. Henry merasa sangat tidak beruntung karena kebebasannya mendapatkan pendidikan dihalang-halangi. Dia berbicara sedikit,  tapi saat dia berbicara aku membaca kedipan  mata dan pandangannya yang hidup, dengan tenang tapi tegas memutuskan untuk tidak menjadi bagian dari perdagangan yang miskin.

Kami duduk sampai larut. Kami tidak dapat memaksa diri kami untuk saling meninggalkan dan mengatakan kata ” Selamat Jalan”. Tapi akhirnya kata itu terucap dan kami pergi tidur dengan alibi mencari ketenangan, membayangkan bahwa yang lain teripu. Pagi-pagi aku turun dan menaiki kereta kuda yang akan membawaku. Mereka semua ada, ayah mendo’akanku lagi, Clerval meremas tanganku sekali lagi, Elisabeth mengulangi permohonannya agar aku sering menulis dan memberikan perhatian lembut terakhirku pada teman-teman bermainya.

Aku melemparkan diriku ke dalam kereta roda empat yang membawa dan memanjakanku dalam bayangan yang paling menyedihkan itu. Aku, yang telah dikelilingi teman-teman yang ramah, berusaha keras untuk melimpahkan kebahagian yang sama. Sekarang aku sendiri di Universitas dimana aku harus berteman dan menjaga diriku sendiri.

Hingga saat ini hidupku sungguh terasing dan hal ini telah memberikanku ketidaksenangan yang amat sangat pada wajah-wajah baru itu. Aku menyayangi saudara-saudaraku, Elisabeth dan Clerval, wajah mereka telah lama aku kenal d aanku percaya bahwa aku sama sekali tidak cocok dengan teman-teman yang asing.

Begitulah gambaran bagaimana aku memulai perjalananku. Tapi seiring berjalanya waktu semangat dan harapanku bangkit, aku sangat ingin menguasai ilmu pengetahuan. Waktu aku di rumah, aku sering berpikir mungkin sulit ketika aku menghabiskan masa mudaku di suatu tempat kemudian ingin memasuki dunia serta berada diantara manusia yang lain. Sekarang keinginanku telah terpenuhi dan sungguh itu adalah sebuah kebodohan yang aku sesali.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.