home Novel Fantasi Frankenstein karya Mary Shelley: Bab 3

Frankenstein karya Mary Shelley: Bab 3

Banyak yang telah dilakukan, menyerukan lagi dan lebih jauh lagi jiwa Frankenstein yang akan aku capai. Melangkah di jalan yang sudah jelas, aku akan mempelopori cara baru, menyelidiki kekuatan yang belum diketahui dan membuka tabir tentang penciptaan dunia.

Malam itu aku memejamkan mataku. Batinku berontak dan kacau balau, aku merasa bahwa ketentraman akan timbul tapi aku tak memiliki kekuatan untuk menciptakannya. Lambat laun aku tertidur saat pagi hampir menjelang. Aku bangun dan berpikir, perasaanku kemarin malam adalah sebuah mimpi. Hanya tersisa tekad untuk kembali pada pelajaran-pelajaran kunoku dan mencurahkan diriku pada ilmu pengetahuan dimana aku percaya bahwa aku memiliki bakat alam.

Di hari yang sama aku mengunjungi M. Waldman. Sikapnya ketika ditemui secara pribadi bahkan lebih lembut dan menarik daripada ketika berada di muka umum. Martabat yang ada di wajahnya ketika kuliah berubah menjadi amat sangat ramah dan baik. Aku memberikannya penjelasan yang hampir sama dengan yang aku berikan pada rekannya sesama professor mengenai pelajaranku terdahulu.

Dengan seksama dia mendengarkan sedikit narasi tentang pelajaranku dan tersenyum ketika nama-nama Cornelius Agrippa dan Paracelsus disebutkan, tapi tanpa meremehkan seperti yang telah M. Krempe perlihatkan. Dia berkata bahwa “Mereka adalah orang-orang yang dengan semangat tak kenal lelahnya membuat filsuf modern berhutang budi atas ilmu pengetahuan mereka.

Mereka hanya meninggalkan tugas yang lebih mudah pada kita untuk menamai dan mengklasifikasikan fakta-fakta yang berhubungan yang telah membawa  banyak penerangan dalam kehidupan. Akan tetapi kerja keras orang-orang ini  menunjukan kekeliruan dan hampir pernah gagal merubah zat yang bermanfaat untuk manusia.”

Aku mendengarkan pernyatannya yang disampaikan tanpa kesombongan atau kepura-puraan, selain daripada itu kuliahnya telah menghilangkan prasangkaku yang berlawanan dengan kimia modern. Aku mengekspresikan diriku dengan istilah-istilah yang telah kuperhitungkan, dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat dari seorang anak muda kepada pengajarnya, tanpa menghilangkan semangat (kurangnya pengalaman dalam hidup akan membuatku malu) yang mendorong rencana kerjaku. Aku perlu nasehatnya tentang buku-buku yang harus aku pelajari.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.