home Novel Fantasi Frankenstein karya Mary Shelley: Bab 4

Frankenstein karya Mary Shelley: Bab 4

Mengejar pemikiran ini, aku berpikir bahwa jika aku dapat memberi kehidupan pada hal yang tak bernyawa, aku mungkin sedang dalam proses (walaupun sekarang aku tahu itu tidak mungkin) memperbaharui hidup dimana kematian telah menyediakan tubuh untuk dirubah.

Pemikiran-pemikiran ini menambah semangatku sehingga aku mengejar tugasku tanpa kekurangan semangat. Karena penelitian ini pipiku pucat dan karena kurungan badanku kerempeng. Kadang-kadang aku gagal di detik-detik terakhir, namun aku masih berpegang teguh pada harapan yang pada hari atau jam berikutnya mungkin terwujud.

Sebuah rahasia yang hanya aku miliki sendiri yaitu harapan pada apa yang telah aku persembahkan pada diriku. Di tengah malam bulan memandang kerja kerasku, sementara itu dengan tegang dan terengah-engah aku mengikuti alam ke tempat persembunyiannya. Siapa yang akan memahami rahasia betapa mengerikanya usahaku berada diantara lembah-lembah kuburan yang tidak disucikan dan menyiksa binatang hidup untuk menghidupkan tanah liat yang tak bernyawa?

Sekarang tubuhku bergetar, dan mataku menyelami kenangan, tapi kemudian sebuah bisikan hati yang tak melawan dan sedikit gila mendorongku. Aku tampaknya telah kehilangan seluruh jiwa dan perasaan kecuali untuk pencarian yang satu ini. Sungguh walaupun sebuah keadaan tak sadarkan diri menghampiri, yang hanya membuat ketakutanku hilang seketika, dorongan yang tidak lazim ini berhenti, aku telah kembali pada kebiasaan lamaku.

Aku mengumpulkan tulang-tulang dari pekuburan dan dengan jari-jari yang kotor mengungkap rahasia terbesar dari kerangka manusia. Di sebuah kamar atau sel terpencil di atap rumah yang dipisahkan oleh balkon dan tangga rumah dari apetemen lain, aku menjaga ruang kerjaku agar hasil penemuanku tidak kotor.

Bola mataku mengikuti setiap lekukan pekerjaanku mulai dari lekukan mata sampai bagian terkecil. Bahan-bahan berserakan memenuhi ruang bedah dan rumah penyembelihan, dan sering kali membuat sifat manusiaku berubah menjadi kebencian pada pekerjaanku. Selama masih didorong oleh semangat yang secara terus menerus bertambah, aku akan semakin dekat pada kesimpulan dari pekerjaanku.

Musim panas telah berlalu sementara hati dan jiwaku sibuk dalam satu pencarian. Itu adalah sebuah musim yang indah dimana ladang-ladang tak pernah menghasilkan panen yang lebih berlimpah atau tanaman anggur yang menghasilkan panen lebih subur, tapi mataku tidak dapat merasakan pesona alam.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.