home Novel Umum Great Expectations karya Charles Dickens: Bab 1

Great Expectations karya Charles Dickens: Bab 1

Dia memberikanku putaran yang sangat mengerikan, sehingga gereja melompat – lompat diatas penunju arah anginnya.

Lalu ia menahan lenganku dengan posisi tegak lurus diatas batu dan mengatakan hal yang sangat mengerikan

“Kau bawakan aku, be sok pagi pagi sekali, kikir dan makanan. Kau bawa yang banyak, di Battery tua di sebelah sana. Kau lakukan semua itu dan jangan berani beraninya kau bilang – bilang atau memberi tanda tanda yang menunjukkan kalau kau telah melihat orang sepertiku atau orang, maka kau akan kubiarkan hidup.Kau gagal, atau kau melakukan kesalahan sekecil apapun dari yang telah ku perintahkan maka jantung dan hatimu akan kukeluarkan, ku panggang dan ku makan.Sekarang, aku tidak sendirian seperti yang kau kira.  Di sana ada laki – laki muda yang bersembunyi denganku, dan bila dibandingkan dengan laki – laki itu aku adalah malaikat. Laki – laki muda itu mendengar apa yang aku katakan.

Laki – laki itu memiliki rahasia yang janggal terhadap dirinya, yaitu untuk mendapatkan anak laki – laki, dan jantungnya, dan hatinya. Percuma saja jika si anak ingin bersembunyi dari laki – laki muda itu. Anak kecil itu mungkin bisa mengunci pintunya, bisa hangat di tempat tidur, bisa menyelipkan dirinya, bisa menarik baju ke atas kepalanya, bisa berpikir bahwa dirinya aman dan nyaman, tapi laki- laki muda itu akan merangkak perlahan – lahan ke arahnya dan merobeknya. Aku menjaga laki – laki muda itu dari menyakitimu saat ini, dengan kesulitan yang besar. Aku menemukan bahwa sangat sulit menahan laki – laki muda itu darimu. Sekarang, kau mau bilang apa?”

Aku bilang aku akan membawakannya kikir dan sedikit makanan sebisaku dan aku akan datang ke Battery pagi pagi sekali.

“Bilang Tuhan akan langsung menghukum ku jika aku tidak melakukannya!” Katanya. Dan aku mengatakannya lalu ia menurunkanku.

“Sekarang,” dia melanjutkan,  “kau ingat yang harus kau lakukan, dan kau ingat alaki – laki muda itu, dan pulanglah!”

“Se- selamat malam, tuan,” kataku  ragu ragu

“Cukup! Cukup!” Katanya lagi, memandangi tanah yang basah.

“Seandainya saja aku adalah kodok. Atau belut! ”

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.