home Novel Umum Great Expectations karya Charles Dickens: Bab 2

Great Expectations karya Charles Dickens: Bab 2

“Mrs. Joe sudah pergi berkali – kali mencarimu, Pip. Dan dia diluar sekarang, membuatnya jadi lusinan kali.”

“Sungguh?”

“Ya, Pip,” kata Joe; “dan yang terburuk adalah dia membawa Tickler bersamanya.”

Dengan inteligensi yang terbatas, aku memutar mutar satu satunya kancing rompiku dan melihat ke arah api dengan depresi. Tickler adalah tongkat dengan ujung lilin, terlihat licin jika bertubrukan dengan kerangkaku yang geli. “Dia duduk” kata Joe, “lalu dia bangun dan menggenggam Tickler, dan dia mengamuk keluar. Itulah yang dia lakukan,” kata Joe, sambil perlahan membersihkan api diantara barisan bawah dengan pengorek api, dan memperhatikan nya; “dia mengamuk keluar, Pip

“Apakah sudah lama dia keluar, Joe?” Aku selalu memperlakukannya seperti anak kecil dengan spesies lebih besar, dan tidak lebih sederajat dariku.

“Yah..,” kata Joe, memandang ke arah jam Dutch, “dia sudah dalam keadan mengamuk, pada kesempatan kali ini, sekitar lima menit, Pip. Dia datang! Bersembunyi di balik pintu, nak, dan ambil kain di tengahmu itu.”

Aku mengikuti sarannya. Kakakku, Mrs. Joe, membuka pintu lebar – lebar dan menemukan penghalang di belakangnya,segera menemukan penyebabnya dan menggunakan Tickler untuk mempercepat investigasi.

Ia menyimpulkan dengan melempariku – aku terbiasa dijadikan peluru dalam pernikahan – terhadap Joe, yang bersyukur dapat menahanku dalam berbagai kondisi, melewatiku ke cerobong asap dan mengurungku dengan kakinya.

“Kemana saja kau monyet kecil?” kata Mrs. Joe, menghentakkan kakinya.

“Katakan padaku apa yang telah kau lakukan sampai membuatku resah, ketakutan dan khawatir, atau kau harus keluar dari sudut situ jika ada lima puluh Pip, dan dia ada lima ribu Gargerys.”

“Aku Cuma pergi ke halaman gereja,” kataku, dari bangku ku, menangis dan mengusap diriku sendiri.

“halaman gereja!” Katanya mengulangiku.
“Jika bukan karena aku, kau masih akan berada di halaman gereja sejak lama, dan tinggal disana. Siapa yang mengurusmu?”

“Kau yang melakukannya” kataku.

“Dan kalau aku boleh tahu, kenapa aku melakukannya?” seru kakakku. Aku merengek, “aku tidak tahu.”

“Aku tidak!” Kata kakakku.

“Aku tidak akan pernah melakukannya lagi! Aku tahu itu. Bisa dibilang aku tidak pernah melepaskan apron ini semenjak kau lahir.
Sudah cukup buruk menjadi istri pandai besi (dan dia adalah seorang Gargery) tanpa menjadi ibumu.” Pikiranku tersesat dari pertanyaan tersebut sementara aku melihat perapian dengan sedih.

Untuk buronan yang muncul dari rawa – rawa dengan kaki besi, pria muda yang misterius, kikir, makanan, dan perjanjian menakutkan yang mana aku harus menjalankan pencurian pada halaman tempat perlindungan.

“Hah!” Kata Mrs. Joe, memugar Tickler ke arahnya. “Halaman gereja, tentu saja! Kau bisa saja mengatakan halaman gereja, kalian berdua.”
Salah satu dari kami, satu per satu, tidak berbicara apapun.

“Kau akan mengantarku ke halaman gereja diantara kamu, pada hari – hari ini, dan O, kalian adalah pasangan yang berharga tanpa aku!”
Setelah ia mempergunakan dirinya untuk menata teh dan lainnya, Joe mengintip kebawah ke arahku melewati kakinya, seolah ia mengangkatku dan dirinya dan menghitung pasangan seperti apa yang seharusnya kami buat, membayangkan berada di bawah situasi yang menyedihkan.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.