home Novel Umum Great Expectations karya Charles Dickens: Bab 2

Great Expectations karya Charles Dickens: Bab 2

Setelah itu, dia duduk merasakan rambut dan kumisnya yang seperti jerami di sebelah kanannya, dan mengikuti Mrs. Joe dengan mata birunya, seolah kelakuannya selalu seperti saat – saat badai.
Kakakku memiliki cara yang tajam untuk memotong roti dan mentega untuk kami, tidak pernah berubah. Pertama, dengan tangan kirinya dia akan mengapit selembar roti dengan keras dan cepat melawan kain alasnya, – dimana terkadang ada peniti di dalamnya, dan terkadang jarum, yang mana masuk ke dalam mulut kami setelahnya.

Lalu dia akan mengambil mentega (tidak terlalu banyak) diatas pisau dan meratakannya di lembaran roti, dengan cara seperti apoteker, seolah ia sedang membuat plaster, – menggunakan kedua sisi pisau dan menamparnya dengan cekatan, dan memotong dan mencetak mentega di sekitar remah – remah. Lalu, dia membuat gerakan akhir pisau menyapukan pinggir plaster, dan kemudian menyapukan yang sangat tebal di sekitar lembaran roti: yang mana akhirnya, sebelum memisahkan dari lembaran roti, memotongnya menjadi dua bagian, yang mana satu untuk Joe, dan satu lagi untukku.

Untuk kali ini, meskipun aku lapar, aku tidak akan memakan bagianku. Aku merasa aku harus mencadangkan untuk kenalanku yang menakutkan, dan kawanannya yang lebih menakutkan, si lelaki muda. Aku tahu rumah tangga Mrs. Joe adalah jenis yang keras, dan pencarian dalam pencurianku mungkin tidak akan menemukan apapun yang tersedia.

Maka aku memutuskan untuk meletakkan bongkahan roti dan mentega dibawah kaki di celanaku. Usaha dan resolusi penting untuk pencapaian tujuan ini kutemukan begitu dahsyat. Seolah – olah aku harus memikirkan diriku untuk lompat dari atap rumah tinggi, atau menceburkan diri ke dalam air yang dalam. Dan semua makin sulit dengan tanpa disadari oleh Joe.

Seperti yang sudah kusebutkan bahwa kami sebagai teman senasib sependeritaan, dan bawaanya yang baik denganku, ini adalah kebiasan malam kami untuk membandingkan cara kami menggigit potongan kami, dengan diam menggenggam mereka dan saling mengagumi satu sama lain, – yang mana menstimulasi kami ke usaha yang baru. Ma-lam ini, Joe beberapa kali mengundangku, dengan menunjukkan potongannya yang berkurang cepat, untuk memasuki kompetisi persahabatan kami ; tapi ia menemukanku, setiap kali, dengan cangkir teh kuningku di lutut, dan roti dan mentega yang tidak tersentuh di sisi lainnya. Pada akhirnya aku mempertimbangkan hal yang sudah ku renungkan harus kulakukan, dan hal itu mustahil dapat dilakukan dengan keadaan seperti ini. Aku mengambil kesempatan ketika Joe sedang tidak melihat ke arahku, dan roti mentegaku turun di kakiku.

Joe rupanya tidak nyaman karena menganggap aku kehilangan nafsu makanku, dan berpikir sembari menggigit potongannya, yang mana tidak ia nikmati. Ia mengunyah lebih lama dari biasanya, mempertimbangkan seolah itu hal besar, dan setelah itu menelannya seperti pil. Saat dia hendak menggigit lagi, dan baru saja kepalanya dalam posisi bagus untuk menggigitnya, ketika matanya jatuh ke arahku, dan ia melihat roti dan mentegaku sudah hilang.
Tercengang dan mempertimbangkan Joe akan berhenti di ambang gigitnya dan memandangku, jelas – jellas untuk melarikan diri dari pengamatan kakakku.

“Ada apa sekarang?” katanya, sangat pintar, sembari ia meletakkan cangkirnya.

“Aku bilang, kau tau!” gumam Joe, mengelengkan kepalanya dengan keluhan yang serius.

“Pip, nak! Kau nakal. Itu akan menempel di suatu tempat. Kau tidak dapat mengunyah itu, Pip”

“Ada apa sekarang?” Kata kakakku lagi, lebih tajam dari yang tadi.

“Kalau kau bisa membatukkan barang sepele itu Pip, aku merekomendasikanmu untuk melakukannya,” kata Joe, semua terkejut. “Sikap adalah sikap, tapi kesehatanmu tetaplah kesehatanmu.” Kali ini, kakaku sudah cukup putus asa, jadi dia menyambar Joe, dan menyeret dua kumisnya, membenturkan kepalanya sedikit ke dinding dibelakangnya, sementara aku duduk di pojok dan merasa bersalah. “Sekarang, mungkin kau ingin mengatakan apa yang terjadi,” kata kakaku, kehabisan napas, “kau babi penipu.”

Joe melihat ke arahnya dengan tidak berdaya, kemudian kembali menggigit dengan tidak berdaya, dan melihatku lagi.

“kau tau, Pip,” Kata joe, serius, dengan potongan terakhir di pipinya, dan bicara dengan suara yang penuh percaya diri, seolah olah hanya ada kami berdua, “kau dan aku adalah teman, dan aku akan meberitahumu, setiap saat. Tapi, -“ dia menggeser kursinya dan melihat ke lantai diantara kami, dan kembali melihatku – “kau sangat terburu – buru memakannya seperti itu!”

“Dia makan dengan terburu – buru, ya?” Teriak kakaku. “kau tahu nak,” kata joe, melihat ke arahku dan bukannya Mrs. Joe, dengan potongan yang masih ada di dalam pipinya, “pada saat aku seumuranmu aku juga makan dengan mengunyah terburu – buru – sering – dan sebagai anak laki – laki, aku sudah berada diantara pemakan yang cepat; tapi aku tidak pernah melihatmu mengunyah cepat sebanyak itu, Pip, dan untung saja kau tidak mati.”

Kakaku menyelamiku dan mengaitkan rambutku, mengatakan hal sangat mengerikan “Sini kamu, minum obat.”

Beberapa pengobatan jahanam menggunakan kembali air-Tar, dan Mrs. Joe selalu memiliki persediaan di lemari; memiliki kepercayaan terhadap kebaikan – kebaikan yang ditulis oleh wartawan yang menjijikkan. Pada saat yang sama, sebanyak obat mujarab ini mengaturku sebagai pilihan untuk menyembuhkan, yang aku sadari, berbau seperti pagar yang baru.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.