home Novel Umum Great Expectations karya Charles Dickens: Bab 2

Great Expectations karya Charles Dickens: Bab 2

Faktanya malam ini dalam keadaanku yang mendesak aku dituntut oleh satu takaran campuran itu, yang mana dituangkan ke kerongkonganku, dan hiburan terbaikku, ketika Mrs.Joe menahan kepalaku di bawah lengannya, seperti sepatu boot yang di gantung di bootjack. Joe juga mendapat setengah takaran; tapi dibuat untuk mengunyahnya (cukup membuatnya kacau, sementara ia duduk perlahan – lahan mengunyah dan bersemedi di depan api), “ karena ia, ia menjadi mendapat giliran.” Menghakimi diriku sendiri, aku dapat mengatakan dia pasti akan mendapat giliran sesudahku, jika ia belum mendapatkannya sebelumnya.

Suara hati adalah hal yang menyeramkan jika menyangkut manusia atau anak laki – laki; tapi, dalam hal ini adalah anak laki – laki, beban bekerja sama dengan rahasia dengan rahasia lainnya membebani celana panjangnya, itu adalah (seperti yang bisa kusaksikan) adalah hukuman yang berat.

Rasa bersalah datang ketika aku akan merampok Mrs.Joe – Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan merampok Joe, aku tidak pernah berpikir semua peralatan rumah tangga miliknya – menjadi satu dengan keperluan untuk selalu memegang roti dan mentega ketika aku duduk, atau ketika aku diperintahkan ke dapur untuk perintah kecil, hampir membuatku gila.

Lalu, ketika angin rawa membuat api menyala dan berkobar, aku berpikir aku mendengar suara diluar, suara laki – laki dengan besi di kakinya yang menyumpahku bahwa dia tidak bisa dan tidak akan kelaparan sampai besok, tapi harus diberi makan sekarang. Di lain waktu, aku berpikir bagaimana jika laki – laki muda yang dengan sangat sulit ditahan dari melayangkan tangannya padaku dengan tidak sabar, atau melakukan kesalahan, dan berpikir akan mengambil hati dan jantungku malam ini, bukannya be-sok! Jika benar rambut orang akan berdiri karena ketakutan, rambutku pasi sudah begitu. Tapi, mungkin tidak ada yang pernah begitu?

Ini malam natal, dan aku harus mengaduk puding untuk keesokan harinya, dengan tongkat kaleng, dari jam tujuh sampai jam delapan menurut jam Dutch. Aku mencoba melakukannya dengan beban di kakiku (dan itu membuatku memikirkan laki – laki dengan beban di kakinya), dan menemukan kecenderungan untuk mengeluarkan roti dan mentega dari pergelangan kakiku, cukup tidak dapat dikendalikan. Dengan senang aku kabur, dan menyimpan suara hatiku di loteng tempat tidurku.

“Hark!” kataku, ketika aku selesai mengaduk, dan sedang menghangatkan diri di sudut cerobong asap sebelum disuruh tidur;

“apakah itu senapan, Joe?”

“ah!” kata Joe. “ada narapidana kabur.”

“Apa artinya itu, Joe?” kataku.

Mrs. Joe yang selalu mengambil penjelasan menurut dirinya sendiri berkata, dengan tidak sabar, “Kabur. Kabur.” Menjelaskan definisinya seperti air-Tar

Ketika Mrs. Joe duduk dengan kepala bungkuk ke pekerjaan menjahitnya, aku membentuk mulutku untuk berbicara pada Joe, “apa itu narapidana?” Joe membentuk mulutnya memberikan jawaban rumit, yang tidak dapat membentuk apa apa selain satu kata “Pip.”

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.