home Novel Umum Great Expectations karya Charles Dickens: Bab 2

Great Expectations karya Charles Dickens: Bab 2

Aku tidak pernah diperbolehkan untuk menyalakan lilin di tempat tidurku, dan, aku naik ke atas dalam gelap, dengan kepalaku yang geli, – dari Mrs. Joe memainkan tamborin di atasnya, menemani kata kata terakhirnya, – aku merasa pantas ketakutan bahwa hulks tempat yang cocok untukku. Jelas aku sedang dalam perjalanan kesana. Aku memulai dengan menanyakan pertanyaan, dan aku akan merampok Mrs. Joe.

Sejak saat itu, yang mana cukup jauh dari sekarang, aku sering berpikir bahwa beberapa orang tahu rahasia apa yang ada di dalam anak kecil yang ketakutan. Tidak penting seberapa tidak beralasannya ketakutan tersebut, tetap saja akan akan menjadi rasa takut. Aku dalam ketakutan abadi oleh laki – laki muda yang menginginkan hati dan jantungku; aku dalam ketakutan abadi oleh teman bicaraku yang menggunakan besi di kakinya; aku dalam ketakutan abadi dengan diriku sendiri, dari janji yang mengerikan yang telah disadap;

Aku tidak memiliki harapan untuk bebas dari kakakku yang penuh kuasa, yang selalu memukul mundur di setiap belokan; aku takut untuk memikirkan bahwa mungkin aku telah memenuhi syarat – syarat, di tengah rahasia ketakutanku.

Jika aku tidur malam itu, aku hanya akan membayangkan diriku mengapung di sungai dengan air pasang, ke Hulks; seorang hantu bajak laut memanggilku melalui terompet untuk berbicara, selagi aku melewati tiang gantung, yang lebih baik jika aku ke daratan dan digantung disana sekaligus, dan tidak melepaskannya. Aku takut untuk tidur, bahkan jika aku sudah doyong, jika aku tahu bahwa ketika fajar datang aku harus merampok dapur. Tidak mungkin melakukannya pada malam hari, tidak ada cahaya sama sekali disana; untuk mendapatkannya aku harus menabrakkan batu api dan baja, dan akan membuat keributan seperti bajak laut kelantang – kelanting dengan rantainya.

Ketika kain beludru penutup di luar jendela kecilku menjadi abu – abu, aku bangun dan turun kebawah; setiap papan di jalan, dan setiap retakan di setiap papan memanggilku, “berhenti pencuri!” dan “Bangun, Mrs.Joe!”

Di pantry, yang mana cadangannya jauh lebih berlimpah ruah dari biasanya, disebabkan oleh musim, aku sangat sadar bahwa kelincu yang digantung, yang kupikir aku lihat ketika punggungku sedikit berputar, berkedip. Aku tidak punya waktu untuk membuktikannya, tidak punya waktu untuk pilihan, tidak ada waktu untuk apapun, untukku yang tidak punya waktu untuk dihemat. Aku mencuri beberapa roti, beberapa kulit keju, sekitar setengah toples daging cincang (yang mana aku ikat di saputangan dengan potongan roti semalam), beberapa brandy dari botol batu(yang mana kutuang ke botol kaca yang aku miliki secara rahasia untuk membuat cairan memabukkan, air kayumanis Spanyol, di kamarku: melemahkan botol batu dari toples di lemari dapur), sedikit daging, dan pai babi yang bulat cantik.

Aku hampir pergi tanpa pai, tapi `aku tergoda untuk melihat gundukan di rak, untuk melihat apa itu dan diletakkan jauh dengan sangat hati hati di tutupi oleh perlatan dari tanah di sudut, dan ternyata itu adalah pai, dan aku mengambilnya dengan harapan itu tidak akan digunakan dalam waktu dekat, dan tidak akan kehilangan untuk beberapa waktu.

Ada sebuah pintu di dapur, terhubung dengan tempat kerja pandai besi; aku membuka kuncinya dan melepaskan pintunya dan mendapat kikir diantara peralatan Joe. Lalu aku meletakan ikatan ketika aku menemukannya, membuka pintu tempat aku masuk ketika aku berlari pulang semalam, menutupnya, dan berlari ke rawa – rawa yang berkabut.

Diterjemahkan oleh Tiara Nur Pangestika © 2015 (Dilarang menyalin dan mempublikasikan ulang terjemahan ini tanpa izin).

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.