home Hikayat/Cerita Rakyat Kisah 1001 Malam: Bab 3

Kisah 1001 Malam: Bab 3

Dan aku menemukannya tengah menangis, menampari wajahnya dan berulang kali melantunkan bait berikut:
“Aku telah kehilangan jati diriku di tengah para manusia sejak engkau pergi, karena hatiku mencintai tidak lain selain engkau. Ambilah tubuhku, lalu, dengan rahmatmu, datangkan aku ke tempat dimana kau berbaring, dan kubur aku di sisimu. Lalu, apabila engkau memanggil namaku di sisi kuburanku, rintihan dari tulang-tulangku akan menjawab panggilanmu”.

Segera setelah ia menyelesaikan pembacaannya, aku mengatakan kepadanya, sambil memegang pedang tak bersarung di tanganku, “ Itu adalah kata-kata dari wanita durhaka yang memutuskan suatu hubungan yang suci dan menjalin sebuah hubungan yang terlarang!”. Dan ketika aku hampir menusukkan pedang itu, bahkan telah mengangkat tanganku, tiba-tiba ia berdiri, karena ia tahu bahwa aku yang telah melukai budak itu. Ia berdiri di hadapanku dan mengucapkan kata-kata yang tidak dapat kupahami, kemudian berkata, “ Dengan mantraku, semoga Tuhan membuat dirimu menjadi setengah batu dan setengah manusia!”

Maka beginilah aku, seperti yang engkau lihat, tidak bisa bergerak, tidak mati serta tidak juga hidup. Dan selagi aku dalam keadaan seperti ini, ia pun memantrai kota ini, pasar-pasar, dan juga ladang-ladang. Penduduk kota ini terbagi menjadi empat kelas: muslim, kristen, yahudi, dan majusi. Dan ia mengubah mereka semua menjadi ikan. Ikan putih mewakili muslim, ikan merah mewakili majusi, ikan biru mewakili kristen, dan ikan kuning mewakili yahudi. Ia pun mengubah empat pulau menjadi empat gunung, dan menempatkan gunung-gunung itu di sekeliling danau. Dan sejak saat itu, ia terus menyiksaku setiap hari, memberiku 100 cambukan dengan cambuk kulit, hingga darah mengalir dari lukaku. Dimana kemudian ia memakaikan rompi yang terbuat dari rambut pada setengah bagian atas tubuhku, di balik pakaian ini.

Sambil menceritakannya, pemuda itu menangis, dan melantunkan bait-bait sebagai berikut: “Berikan hambamu ini kesabaran ya Allah, untuk menerima setiap keputusanmu! Hamba akan bersabar, apabila dengan demikian hamba bisa mendapatkan restumu. Aku berada dalam keadaan yang sangat susah, melalui bencana yang menimpaku ini, namun aku meyakini bahwa sanak saudara Rasul (SAW) akan memberikan syafaat bagiku kelak!”

Mendengar keseluruhan cerita tersebut, sang Raja kemudian memandang pria muda itu, dan berkata padanya, “ Wahai pemuda, engkau telah menerbitkan rasa keingintahuanku. Maka dimanakah sekarang wanita tersebut?”. Sang pemuda menjawab, “ Ia berada di kuburan yang terletak di dalam kubah, di mana budak itu terbaring. Dan setiap hari, sebelum ia mengunjungi sang budak, ia menelanjangiku dan mendaratkan 100 cambukan padaku, dimana aku hanya bisa meratap dan menangis, tidak dapat bergerak ataupun menangkisnya. Setelah ia menyiksaku, ia bergegas mendatangi sang budak dengan membawa anggur dan daging yang matang”. Maka Raja pun berkata, “ Demi Allah, wahai pemuda, aku akan melakukan suatu kebaikan yang akan terus diingat oleh orang lain. Juga suatu amalan yang akan dicatat oleh para sejarawan ketika mereka menulis kisah hidup tentangku”.

Raja kemudian duduk dan berbincang dengan sang pemuda hingga malam datang. Ia lalu berdiri dan menunggu hingga kemudian fajar datang, dan setelahnya ia melepaskan pakaiannya, kemudian menyampirkan pedangnya, lalu ia pergi ke tempat dimana sang budak berbaring. Setelah mengomentari cahaya lilin dan lampu, juga harumnya parfum serta campuran obat-obatan dari rempah-rempah, ia mendatangi sang budak, lalu membunuhnya dengan sekali tebasan pedang. Kemudian ia mengangkat sang budak di bahunya, dan membuang jenazahnya ke dalam sumur yang ditemukannya dalam istana ini. Setelah itu, ia kembali ke dalam kubah, memakaikan pakaian sang budak kepadanya, lalu ia berbaring dengan pedang yang tak bersarung di sisinya.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.