home Hikayat/Cerita Rakyat Kisah 1001 Malam: Bab 3

Kisah 1001 Malam: Bab 3

Tak lama kemudian, penyihir wanita itu datang kepada sang pemuda, membuka pakaiannya, mengambil cambuk, lalu mencambukinya. Sementara sang pemuda hanya dapat berteriak, “ Ah, cukup bagiku berada dalam keadaan seperti ini! Tolong kasihanilah aku! Mengapa tidak kau perlihatkan belas kasihmu padaku!”. Lalu wanita itu menjerit, “ Dan apakah engkau mengampuni orang yang kucintai??”. Wanita itu kemudian memakaikan rompi berbahan rambut serta pakaian luarnya. Kemudian ia pergi mendatangi sang budak dengan segelas anggur dan semangkuk sup daging.

Sambil memasuki kuburan ia menangis dan meratap, lalu berseru, “ Wahai Tuanku, jawablah aku! Wahai Tuanku, bicaralah padaku! “. Dan ia menumpahkan ratapannya dalam bait-bait sebagai berikut:
“ Sampai kapankah penderitaan dan kekejaman ini akan berlanjut? Cukuplah iblis yang telah didatangkan padaku oleh nafsuku sendiri!”
Menangis tersedu seperti sebelumnya, ia kembali berseru, “ Wahai Tuanku, jawablah aku dan bicaralah padaku!”.

Mendengar hal tersebut, sang Raja dengan suara yang rendah, dan disesuaikan dengan lafal budak kulit hitam mengatakan, “ Ah! Ah! Tidak ada daya dan kekuatan kecuali datangnya dari Allah!”. Mendengar itu, wanita tersebut menjerit dengan bahagia, kemudian ia jatuh pingsan. Ketika telah tersadar kembali, ia berseru, “ Mungkin Tuanku telah sehat seperti sediakala!”. Sang Raja, kembali merendahkan suaranya seakan benar-benar berada dalam kondisi lemah, menjawab, “ Kau manusia yang sangat celaka, kau tidak layak untuk kudatangi..”. Wanita itu bertanya, “ Mengapa?”. Dan Raja mengatakan, “ Karena sepanjang hari kau menyiksa suamimu, sementara ia meratap dan memohon bantuan dari Allah. Engkau telah mengganggu tidurku dari permulaan malam hingga fajar. Suamimu tidak berhenti merendahkan dirinya dan menanti pembalasannya atas perbuatanmu. Hal itu telah menggangguku selama ini, dan kalau bukan karena itu, mungkin aku sudah sehat kembali sejak lama. Hal itulah yang membuatku tidak dapat menjawabmu selama ini”.

Kemudian wanita itu berkata, “ Apabila seperti itu keadaannya, dengan izinmu, aku akan membebaskan dirinya dari penderitaannya selama ini”. Raja berkata, “ Bebaskan ia dan berikan ia keringanan”.
Wanita itu menjawab, “ Aku mendengar dan aku patuh”, lalu ia segera berdiri dan pergi meninggalkan kubah, menuju ke istana. Kemudian ia mengambil gelas, mengisinya dengan air, lalu menggumamkan kata-kata ke dalam gelas tersebut, dan segeralah air di dalamnya menggelegak bagaikan air dalam ketel. Ia kemudian memercikkan air itu ke arah sang pemuda, sambil mengatakan, “ Dengan mantra yang telah kuucapkan, berubahlah engkau dari wujudmu yang sekarang menjadi wujudmu yang asli!”.

Dan dalam sekejap tubuh pemuda itu terguncang, kemudian ia dapat berdiri di atas kakinya sendiri, dan ia pun bersorak atas kebebasannya, lalu berseru, “ Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad (SAW) adalah utusan Allah, Allah memberkati dan menyelamatkannya!”. Wanita itu kemudian berkata padanya, “ Pergilah dan jangan kembali kemari, atau aku akan membunuhmu!” lalu ia berteriak di hadapan wajahnya sehingga sang pemuda pun pergi dari hadapannya. Wanita itu kemudian kembali ke kubah, dan berkata, “ Wahai Tuanku, datanglah kemari sehingga aku dapat melihat wajahmu”. Dan Raja menjawab dengan suara yang lemah, “ Apa yang telah kaulakukan? Kau telah membebaskanku dari dahan pohon, namun kau tidak membebaskanku dari akarnya”. “ Wahai cintaku” kata wanita itu, “ Maka apakah akar tersebut?”.

Raja menjawab, “ Orang-orang dari negeri ini, dari empat pulau, setiap malam dan juga setiap siang ikan-ikan itu mengangkat kepala mereka dan bersumpah akan pembalasan terhadap kau dan aku. Dan ini adalah hal yang menghambat kembalinya kesehatan ke dalam jiwaku. Maka, bebaskanlah mereka, lalu datang dan pegang tanganku, dan angkatlah aku. Saat itu pasti kekuatan telah kembali ke dalam tubuhku”.

Mendengar kata-kata Raja tersebut, yang ia kira adalah sang budak, membuat wanita itu berkata padanya dengan penuh kegembiraan, “ Wahai Tuanku, di dalam kepalaku dan juga di depan mataku, dengan nama Allah!”. Dan ia berdiri, dengan penuh kegembiraan, terburu-buru melangkah ke arah danau, dimana disana ia mengambil sebagian air dari danau itu, lalu menggumamkan kata-kata yang tidak dapat dipahami, ikan-ikan di dalamnya kemudian menjadi gelisah, mengangkat kepala mereka, dan segeralah mereka berubah menjadi wujud manusia seperti sebelumnya. Itu adalah kejadian dimana kutukan terlepas dari para penghuni kota tersebut. Kota itu menjadi ramai kembali, pasar-pasar didirikan, dan semua orang kembali pada pekerjaan masing-masing. Gunung-gunung pun kembali lagi menjadi pulau seperti keadaan mereka sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.