home Hikayat/Cerita Rakyat Kisah 1001 Malam: Bab 3

Kisah 1001 Malam: Bab 3

Maka kemudian muncul asap yang membumbung tinggi, lalu asap itu bersatu menjadi satu gumpalan, dan dari sana datanglah, seperti sebelumnya, sosok Efreet dalam bentuk yang tersembunyi. Sang Efreet kemudian menendang botol itu ke lautan.

Ketika sang nelayan melihatnya melakukan hal tersebut, ia dapat merasakan kehancurannya sudah dekat, dan ia berkata pada dirinya, “Ini bukan pertanda yang baik”. Namun ia menguatkan hatinya dan mengatakan, “ Wahai Efreet, Allah yang Maha Mulia pernah mengatakan, laksanakanlah perjanjian yang telah dibuat, karena kelak perjanjian itu akan dipertanyakan, kau telah melakukan perjanjian denganku, dan bersumpah bahwa kau tidak akan berbuat curang padaku. Maka, apabila kau bertindak sesuai kata-katamu, Allah akan membalas jasamu, karena Ia merasa cemburu, ia beristirahat sesaat namun ia tidak akan membiarkanmu lepas. Dan ingat bahwa aku mengatakan padamu hal yang sama dengan apa yang dikatakan oleh Dooban yang bijak pada Raja Yoonan, ‘ampuni aku maka Allah akan mengampunimu’”.
Efreet tertawa, lalu berjalan di depan sang nelayan dan berkata, “ Wahai nelayan, ikuti aku”. Sang nelayan menuruti kata-katanya, ia tidak percaya Efreet akan melarikan diri, hingga kemudian mereka meninggalkan kota, mendaki gunung, dan menuruni padang rumput yang luas dimana ditengah-tengahnya terdapat sebuah danau.

Di sana sang Efreet berhenti, dan ia mengatakan kepada nelayan untuk melemparkan jalanya serta mengambil beberapa ikan. Sang nelayan memandang ke dalam danau dan melihat ikan-ikan dengan warna yang berbeda, hitam, merah, biru, dan kuning, dan ia tercengang menatapnya. Ia melemparkan jalanya dan menariknya, disana ditemukannya empat ikan, masing-masing dengan warna yang berbeda, hal itu membuatnya menjadi bersuka cita. Efreet kemudian mengatakan kepadanya, “ Bawalah ikan-ikan itu kepada Sultan dan tunjukkan padanya, maka ia akan memberimu sesuatu yang akan membuatmu kaya. Lalu, dengan nama Allah, terimalah permintaan maafku, karena aku tidak tahu lagi cara lain untuk memberikanmu hadiah. Aku telah terombang-ambing di lautan selama 1800 tahun, dan tidak pernah melihat permukaan bumi hingga hari ini. Untuk ikan ini, kau hanya boleh mengambil satu setiap harinya. Sekarang, aku mempercayakanmu dalam lindungan Allah”. Setelah mengatakannya, ia memukul tanah dengan kakinya, tanah itu hancur berkeping-keping, dan kemudian menelannya.

Sang nelayan kemudian kembali ke kota, terheran-heran dengan apa yang telah menimpanya berkenaan dengan kedatangan sang Efreet. Ia membawa ikan-ikan itu ke rumahnya, kemudian mengambil mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Setelah mengisinya dengan air, ia menempatkan ikan-ikan itu di dalamnya, ikan-ikan tersebut menggelepar di dalam air. Ia kemudian menempatkan mangkuk itu di atas kepalanya, dan pergi menuju kediaman Raja, seperti yang telah diperintahkan oleh Efreet, lalu bertemu dengan Raja serta mempersembahkan ikan-ikan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.