home Hikayat/Cerita Rakyat Kisah 1001 Malam: Bab 3

Kisah 1001 Malam: Bab 3

Ketika orang itu telah menghilang dari hadapan mereka, Raja berkata, “ Ini adalah kejadian yang mustahil untuk dirahasiakan, dan pasti ada suatu kondisi yang aneh berhubungan dengan ikan-ikan ini, tidak salah lagi”. Ia kemudian memerintahkan agar sang nelayan dibawa ke hadapannya, dan ketika nelayan itu telah datang, Raja berkata, “ Dari mana datangnya ikan-ikan itu?”. Dan dijawab oleh sang nelayan, “ Dari sebuah danau yang berada di antara empat gunung, danau itu terletak di belakang gunung yang berada di luar wilayah kekuasaan Baginda Raja”.

Raja kembali bertanya, “ Berapa hari yang dibutuhkan untuk perjalanan ke sana?”. Sang nelayan menjawab, “ Wahai Baginda Raja, perjalanan itu hanya memakan waktu setengah jam”. Sang Sultan pun terperanjat, ia segera memerintahkan pasukannya untuk pergi bersama dengannya dan sang nelayan, yang saat ini mulai mengutuki Efreet. Mereka pun melakukan perjalanan, mendaki gunung, lalu turun ke padang pasir luas yang tak pernah mereka temui seumur hidup. Sultan dan pasukannya terheran-heran dengan keberadaan gurun pasir itu, yang berada di antara empat gunung, dan mereka pun merasa heran terhadap ikan-ikan itu yang memiliki empat macam warna, merah, putih, kuning, dan biru.

Sang Raja berhenti di dalam keheranannya, dan berkata pada pasukannya, serta pada para pengikut yang melakukan perjalanan bersamanya, “ Apa ada di antara kalian yang pernah melihat danau itu di tempat ini?”. Semuanya menjawab tidak pernah. Maka kemudian berkatalah sang Raja, “ Demi Allah, aku tidak akan kembali memasuki wilayahku, ataupun duduk di atas singgasanaku, sebelum aku mengetahui sejarah yang susungguhnya dari danau itu beserta ikan-ikan yang ada di dalamnya”. Kemudian Raja memerintahkan para pengikutnya untuk mendirikan perkemahan di sekitar gunung, maka mereka pun menurutinya. Ia kemudian memanggil Perdana Menteri nya, yang merupakan seorang pria yang pintar, bijaksana, cermat, dan juga terpelajar.

Ketika Perdana Menteri telah berada di hadapannya, Raja mengatakan, “ Aku bermaksud untuk melakukan sesuatu yang akan kuberitahukan padamu sekarang, dan hal itu adalah sebagai berikut. Aku telah memutuskan untuk pergi sendirian di malam hari, untuk mencari informasi mengenai danau itu beserta ikan-ikannya. Maka, berdirilah kau di pintu paviliunku, dan katakan pada para pembesar, menteri-menteri, dan para pelayan bahwa Raja sakit, dan katakan Raja berpesan padamu bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menemuinya. Jangan beritahukan rencanaku ini pada siapapun”.

Perdana Menteri tidak berdaya untuk menolak keinginan Raja. Maka pergilah Raja dengan menyamar, menyandang pedangnya, dan pergilah ia dari tengah-tengah para pasukannya. Ia melakukan perjalanan sepanjang malam, hingga pagi datang, dan terus berjalan hingga terik matahari tak tertahankan lagi olehnya. Ia kemudian berhenti dan beristirahat. Kemudian ia melanjutkan perjalanan sepanjang sisa hari dan sepanjang malam kedua hingga pagi datang, ketika kemudian tampak di hadapannya, di kejauhan, sesuatu yang bewarna hitam, sebuah pemandangan yang menyenangkan hatinya.

Lalu ia berkata, “ Mungkin disana aku akan menemukan seseorang yang dapat memberitahuku sejarah dari danau dan ikan-ikannya. Ketika ia mendekati sesuatu yang bewarna hitam itu, ia baru menyadari bahwa itu adalah sebuah istana yang dibangun dari batu-batu hitam dan dilapisi oleh besi. Salah satu daun pintunya terbuka, sementara sisi yang satunya tertutup. Sang Raja amat bergembira, ia berdiri di depan pintu dan mengetuk dengan lembut, namun tidak ada jawaban. Ia mengetuk hingga dua, kemudian tiga kali, namun lagi-lagi tidak ada jawaban. Ia kemudian mengetuk untuk yang keempat kalinya, dengan lebih keras, namun tetap tak ada yang menjawabnya.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.