home Hikayat/Cerita Rakyat Kisah 1001 Malam: Bab 3

Kisah 1001 Malam: Bab 3

Maka ia mengatakan pada dirinya, tak diragukan lagi tempat itu kosong. Kemudian ia memberanikan dirinya untuk masuk melalui pintu, dan berdiri di tengah ruangan. Lalu ia berteriak, “ Wahai penghuni istana ini, aku adalah orang asing dan seorang pengembara, apakah kalian memiliki perbekalan?”. Ia mengulangi kata-kata yang sama untuk kedua dan ketiga kalinya, namun ia tak mendengar adanya jawaban. Maka ia pun membentengi hatinya dan memberanikan dirinya untuk berjalan dari depan ke tengah-tengah bagian istana, namun ia tak menemukan siapa pun. Ia hanya melihat tempat itu dilengkapi oleh perabotan, dan di tengahnya terdapat air mancur dengan empat singa bewarna merah emas yang menyemburkan air yang bagaikan mutiara dan permata dari mulut mereka.

Di sekeliling ruangan itu burung-burung beterbangan, dan di puncak istana terdapat jaring yang dibentangkan agar mereka tidak terbang keluar. Pemandangan tersebut membuatnya terpana, namun ia bersedih karena tidak ada seorang pun yang bisa ditanyai mengenai danau, ikan, gunung-gunung, dan juga istana ini. Ia kemudian duduk diantara pintu-pintu, memikirkan hal-hal tersebut.

Namun ketika ia duduk, ia mendengar suara ratapan dari hati yang sengsara, mengumandangkan bait sebagai berikut:
“ Wahai Nasib, kau tidak mengasihaniku namun kau pun tidak membebaskanku! Lihatlah hatiku yang menjadi sempit diantara penderitaan dan bahaya! Apakah engkau [wahai istriku] tidak memiliki belas kasih terhadap manusia berkuasa yang cintanya telah kau rendahkan, dan manusia kaya yang kini jatuh dalam kemiskinan? Kami bahkan merasa iri pada angin sepoi-sepoi yang bertiup melewatimu: namun ketika firman Tuhan telah dititahkan, mata itu menjadi buta! Apa daya yang dimiliki oleh seorang pemanah, apabila dalam konflik yang berkepanjangan ia memutuskan untuk melepas anak panahnya, namun menemukan bahwa tali busurnya putus? Dan ketika masalah menjadi berlipat ganda dalam pikiran yang mulia, dimanakah ia dapat menemukan tempat perlindungan dari nasib dan takdir? “

Ketika Sultan mendengar ratapan itu, ia melompat dan mencari arah datangnya suara tersebut, kemudian ia menemukan tirai yang tergantung di depan pintu sebuah kamar. Ia menyibak tirai tersebut, dan di hadapannya duduklah seorang pria muda di atas tempat tidur yang tingginya sehasta dari lantai ( hasta: satuan ukuran sepanjang lengan bawah). Ia seorang pemuda yang tampan, memiliki tubuh yang proporsional, juga memiliki kemampuan bicara yang fasih. Ia memiliki dahi yang bersinar, pipi bewarna merah jambu dengan tahi lalat yang menyerupai ambar.

Sang Raja sangat bersukacita melihatnya, maka ia memberi salam pada pria itu, dan pria muda yang tetap duduk dan memakai rompi dari sutra disulam dengan emas itu membalas salamnya, dan berkata padanya, “ Tuan, Maafkan diriku yang tidak berdiri untuk membalas salammu”. Raja mengatakan, “ Wahai pemuda, beritahu aku kisah mengenai danau, ikan-ikannya yang memiliki bermacam warna, istana ini, juga mengapa engkau berada sendirian disini, dan apakah arti dari ratapanmu?”.

Ketika sang pemuda mendengar kata-kata itu, airmata bercucuran di pipinya, dan ia menangis dengan getir. Sang Raja keheranan dan bertanya padanya, “ Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai pemuda?”. Dan sang pemuda menjawab, “ Bagaimana aku dapat menahan tangis, jika beginilah keadaanku?”, ia merentangkan tangan dan menyibak kain yang menutupi pakaiannya. Dan… tampaklah bahwa setengah dari dirinya, yaitu dari pinggang hingga telapak kaki, adalah batu. Sementara dari pinggang hingga ujung rambutnya, ia menyerupai manusia biasa. Kemudian ia berkata, “ Wahai Raja, ketahuilah bahwa kisah mengenai ikan-ikan itu adalah kisah yang istimewa, apabila diukir di atas kecerdasan, itu akan menjadi pelajaran bagi mereka yang bertakwa”. Maka ia pun menceritakan kisahnya sebagai berikut.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.