home Hikayat/Cerita Rakyat Kisah 1001 Malam: Bab 3

Kisah 1001 Malam: Bab 3

Namun aku berbalik, berpura-pura meminumnya sementara aku tidak melakukannya dan malah menumpahkannya di atas dadaku. Kemudian aku cepat-cepat berbaring, dan istriku mengatakan, “ Tidurlah..aku berharap bahwa kau tidak akan pernah bangun lagi! Demi Allah, aku muak padamu dan jiwaku lelah untuk mendampingimu!”. Ia kemudian berdiri, lalu bersolek dengan pakaiannya yang paling indah, dan dibubuhkannya parfum, lalu disandangnya sebuah pedang. Selanjutnya ia membuka pintu istana dan pergi ke luar.

Aku segera bangun dan mengikutinya hingga ia menghilang dari istana, kemudian melewati jalan-jalan di kota, dan tiba di gerbang kota. Di sana ia melafalkan kata-kata yang tidak kumengeri, hingga kemudian kunci gerbang terjatuh, pintu terbuka, dan ia berjalan ke luar. Aku masih mengikutinya, tanpa sepengetahuannya. Kemudian ia melangkah di jalan yang berada di antara gundukan-gundukan tanah, dan tiba di sebuah bangunan kuat yang berbentuk kubah serta dibangun dari lumpur, dengan sebuah pintu yang kemudian ia masuki. Kemudian aku memanjat atap kubah tersebut, dan melihat ke bawah dari satu lubang. Aku melihatnya mendatangi seorang budak berkulit hitam dengan bibir tebalnya yang tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Pasir-pasir bertebaran dari lantai yang berkerikil, dan ia berbaring di sana, dengan kondisi yang basah dan kotor, dialasi oleh batang-batang tebu.

Istriku mencium tanah di hadapan sang budak, dan sang budak mengangkat kepalanya lalu menghadapi wanita itu. “ Kemana saja engkau hingga selarut ini? Budak-budak lainnya telah datang kemari dan meminum anggur, lalu masing-masing dari mereka telah pergi dengan istri-istrinya. Namun aku menolak untuk minum, demi engkau”. Wanita itu kemudian menjawab, “ Wahai Tuanku, cinta sejatiku, tahukah engkau bahwa aku menikahi sepupuku? Bahwa aku membenci semua pria yang mirip dengannya, dan membenci diriku sendiri ketika aku harus mendampinginya? Apabila aku tidak takut untuk mengecewakanmu, aku sudah menghancurkan kota itu menjadi reruntuhan, sehingga burung hantu dan burung gagak dapat menangis di atasnya. Dan mungkin aku telah memindahkan batu-batu yang ada di sana ke seberang Gunung Kaf”. “

Engkau berbohong, wanita hina” jawab sang budak. Ia melanjutkan, “ Dan aku bersumpah atas kemurahan hati ras berkulit hitam (dan apabila aku mengatakan perihal yang bukan sesungguhnya, semoga keberanian kami disamakan dengan keberanian ras kulit putih) bahwa apabila engkau berkeliaran hingga selarut ini lagi, aku tidak akan mau mendampingimu lagi, bahkan aku tidak akan mendatangimu, kau wanita yang tak setia! Apakah engkau membuatku tidak nyaman hanya demi kesenangan pribadimu, wahai kau makhluk kotor dari ras kulit putih yang hina?”.

Ketika aku mendengarkan percakapan mereka dan melihat apa yang terjadi di antara mereka, dunia menjadi gelap di hadapan mataku, dan aku tidak tahu dimana aku berada. Sepupuku itu masih berdiri, menangis dan menghinakan dirinya di hadapan sang budak sambil berkata, “ Wahai cintaku, dan permata hatiku, tidak ada selain engkau yang aku sayangi, dan apabila engkau mencampakkanku, maka celakalah diriku ini! Wahai cintaku! Cahaya kehidupanku!” dan ia terus menangis serta merendahkan dirinya, hingga kemudian sang budak menjadi lebih tenang. Istriku bergembira melihatnya, maka ia pun segera bangkit dan menanggalkan pakaiannya, kemudian berkata, “ Wahai Tuanku, apakah engkau memiliki sesuatu untuk dimakan oleh pelayan ini?”.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.