home Hikayat/Cerita Rakyat Kisah 1001 Malam: Bab 3

Kisah 1001 Malam: Bab 3

Dan sang budak menjawab, “ Buka panci adonan itu, di dalamnya ada tulang-tulang tikus yang telah dimasak, ambil dan makan itu. Dan ambil juga pot itu, di dalamnya terdapat boozah (semacam minuman beralkohol) yang dapat kau minum”. Maka ia pun berdiri, lalu makan dan minum, kemudian mencuci tangannya. Setelah itu ia berbaring di samping sang budak, di atas ranting-ranting tebu, dan menyelimuti dirinya dengan pakaian usang dan compang camping.
Ketika aku melihat ia melakukannya, aku menjadi tak sadar atas keberadaanku. Maka aku pun turun dari atap kubah, lalu masuk, dan mengambil pedang dari sisi istriku, dengan maksud untuk membunuh mereka berdua.

Aku menebas sang budak di lehernya, dan berpikir bahwa ia telah mati. Namun tebasanku yang kupikir akan melukai kepalanya, hanyalah memotong tenggorokan, kulit, dan sedikit dagingnya. Dan ketika aku berpikir bahwa aku telah membunuhnya, ia mengeluarkan suara dengkuran yang keras. Sesaat setelah aku pergi, istriku mengambil pedang itu dan memasukkannya kembali ke sarungnya, lalu ia kembali ke kota dan kembali ke istana, kemudian berbaring di tempat tidurku, dan tetap di sana hingga pagi datang.

Pada keesokan harinya, aku melihat bahwa istriku telah memotong rambutnya dan mengenakan pakaian berduka. Lalu ia berkata padaku, “ Wahai sepupuku, jangan salahkan aku karena memotong rambut dan memakai pakaian berduka, karena hari ini aku mendapatkan berita bahwa ibuku meninggal dunia, ayahku tewas terbunuh dalam perang, salah satu dari dua saudara laki-lakiku tewas karena sengatan beracun, dan yang seorang lagi tewas karena terjatuh dari rumah. Semua kematian itu alami, sehingga aku harus menangis dan berduka”.

Mendengar kata-katanya, aku diam dan tidak mencelanya, lalu mengatakan, “ Lakukan apa yang engkau mau, karena aku tidak akan menolaknya”. Setelahnya, ia terus berduka, menangis dan meratap hingga setahun berlalu, sampai kemudian ia mengatakan padaku, “ Aku memiliki keinginan untuk membangun kuburan berbentuk kubah untuk diriku di dalam istanamu ini, di mana aku bisa selalu ke sana sendirian untuk berduka, dan aku akan menamakannya Pondok Ratapan”. Aku menjawab, “ Lakukan apa saja yang engkau mau”.

Maka ia pun membangun sebuah pondok untuk berduka bagi dirinya, dengan sebuah kubah di tengahnya, bagaikan kuburan orang-orang suci. Setelahnya ia membawa sang budak dan menempatkannya dalam pondok itu. Budak itu berada dalam kondisi yang sangat lemah, sehingga ia tidak bisa membalas apa yang telah dilakukan oleh istriku. Meskipun ia minum anggur setiap hari, namun sejak hari di mana aku menebasnya, ia tidak pernah bicara lagi. Bagaimanapun, ia tetap hidup, karena memang waktunya di dunia ini belum berakhir. Istriku menjenguknya di pondok ini setiap hari, dari pagi hingga larut malam, untuk meratapinya, dan memberikan anggur padanya, juga memasakkannya daging. Ia terus melakukannya, tiap pagi dan malam, hingga di akhir tahun kedua, ketika dengan sabar aku telah membuatnya menderita, pada suatu hari aku memasuki kamarnya tanpa ia sadari.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.