home Artikel Tips Bisnis Pentingnya Bekerja di Bidang Pekerjaan yang Sesuai Minat

Pentingnya Bekerja di Bidang Pekerjaan yang Sesuai Minat

Kisah Arden W. Sharpe. Ada kisah menarik tentang seorang wiraniaga asal Amerika bernama Arden W. Sharpe. Pecahnya Perang Dunia II telah memaksanya berhenti dari pekerjaannya. Ia terpaksa bekerja di bidang pekerjaan yang tidak disukai, yakni menjadi buruh di sebuah pabrik industri.

“Lima tahun lalu,” katanya, ”saya pernah merasa cemas, tertekan, dan sakit. Dokter mengatakan saya menderita penyakit lambung. Mereka menyarankan saya melakukan diet. Saya harus banyak makan telur dan minum susu sampai-sampai saya merasa mual jika melihat kedua makanan itu. Namun kondisi saya tidak kunjung berubah! Suatu hari saya membaca artikel tentang penyakit kanker. Tiba-tiba saya merasa memiliki semua gejala penyakit tersebut. Saya tidak lagi merasa cemas saat itu, tapi benar-benar ketakutan setengah mati! Tentu saja hal itu membuat sakit saya semakin bertambah parah.”

“Saya merasa putus asa,” katanya, “Saya merasa tidak punya harapan sedikit pun. Di tengah keputusasaan itu, saya mencoba menganalisa apa yang membuat saya terjebak dalam kondisi menyedihkan ini. Perlahan saya mulai melihat segalanya dengan lebih jelas.”

“Dua tahun sebelumnya saya adalah seorang yang sehat dan bahagia dengan pekerjaan saya sebagai salesman. Tapi perang telah memaksa saya meninggalkan pekerjaan dan mulai bekerja di sebuah industri. Saya benci pekerjaan pabrik! Buruknya lagi, saya berteman dengan sekelompok orang yang selalu berpikiran negatif. Mereka senantiasa berpikiran negatif tentang segala hal. Semuanya dipandang salah. Mereka terus mengeluh tentang pekerjaan, gaji, jam kerja, atasan, dan semuanya. Saya sadar sekarang secara tidak langsung saya telah menyerap kebiasaan buruk mereka.”

“Perlahan saya mulai menyadari jika sakit saya mungkin saja disebabkan emosi dan pikiran negatif saya sendiri. Akhirnya saya memutuskan kembali ke bidang pekerjaan yang disuka: menjadi wiraniaga; dan berkumpul dengan orang-orang yang berpikiran positif dan konstruktif. Keputusan itu telah menyelamatkan hidup saya.

Saya mulai mencari teman serta rekan kerja yang berpikiran maju, bahagia, optimis, dan bebas dari rasa cemas. Segera setelah emosi saya berubah, lambung saya ikut berubah. Dalam waktu singkat saya telah lupa jika saya pernah menderita penyakit lambung. Saya sadar sekarang, Anda bisa tertular kesehatan, kebahagiaan, dan keberhasilan dari orang lain sama mudahnya seperti Anda tertular kecemasan, kegagalan, dan kegetiran dari mereka. Ini salah satu pelajaran paling berharga yang pernah saya alami. Seharusnya saya belajar hal itu sejak lama. Saya telah banyak mendengar dan membaca hal itu sebelumnya, tapi saya harus melewatinya dengan cara yang paling sulit!”

Pekerjaan dan Karir Anda. Di samping berpengaruh buruk terhadap kesehatan, salah dalam memilih pekerjaan juga ternyata dapat berdampak negatif terhadap karir Anda. “Jika memang memungkinkan,” kata Dale Carnegie, “cobalah memilih bidang pekerjaan yang Anda sukai. Usahakan sungguh-sungguh memilih bidang pekerjaan yang benar-benar diminati sehingga Anda merasa nyaman dan bisa menikmati pekerjaan yang dilakukan.”

Hal ini penting, karena menurut David Goodrich, mantan ketua Dewan Direktur B. F. Goodrich Company, kunci utama meraih sukses adalah menikmati pekerjaan Anda. ”Jika menyukai apa yang sedang dilakukan, Anda bisa bekerja hingga waktu yang lama tanpa terasa seperti bekerja sama sekali. Anda seperti sedang bermain-main saja,” katanya. Buktinya, banyak orang-orang besar yang berhasil karena mereka memiliki minat yang besar dengan pekerjaannya.

Ambil contoh Thomas Alfa Edison yang berhasil membuat ribuan penemuan sepanjang hidupnya. Selama bertahun-tahun, Edison bekerja di laboratorium miliknya lebih dari delapan belas jam sehari. Walau begitu, ia mengaku kepada teman terdekatnya bahwa ia tidak pernah bekerja selama satu hari pun dalam hidupnya. “Semuanya terasa menyenangkan!” katanya.

Hal serupa juga dikemukakan Jerry Yang, salah seorang penemu Yahoo! yang menjadi multi milyuner pada usia 30 tahun. Ia mengatakan, “Pekerjaan telah menjadi bagian paling penting dalam hidup sampai-sampai saya merasa tidak pernah bekerja sama sekali.”

Isaac Asimov, penulis lebih dari 400 buku laris, tidak pernah merokok atau minum minuman beralkohol selama hidupnya. “Tetapi,” akunya, “saya memiliki kecanduan yang lain, yakni menulis. Jika berada jauh dari mesin tik, saya akan mulai merasakan gejala kecanduan. Pada saat sedang menulis, saya benar-benar merasa bergairah. Anda tahu, saya mampu menulis 12 jam non-stop tanpa merasa lelah sedikitpun!” “Ayah saya selalu berkata,” kata Jim Fox, “carilah pekerjaan yang paling kamu suka, dan kamu pun tidak akan perlu bekerja selama satu hari pun dalam hidup kamu.”

“Orang-orang yang beruntung,” kata Jerome Kern, “adalah mereka yang melakukan pekerjaan yang disukainya.” “Mereka beruntung,” kata Dale Carnegie, “karena memiliki lebih banyak energi, lebih banyak kebahagiaan, lebih sedikit kecemasan, dan lebih sedikit kelelahan dibanding orang-orang yang tidak menikmati pekerjaannya. Dimana minat Anda berada, di situlah energi berada. Berjalan seratus meter dengan seorang isteri yang ceriwis akan jauh lebih melelahkan dibanding berjalan sepuluh kilometer dengan seorang kekasih yang menyenangkan.”

“Seseorang akan berhasil dalam apapun juga,” kata Charles Schwab, ”jika ia memiliki minat dan hasrat yang besar.”

Kisah Dale Carnegie. Ambil contoh Dale Carnegie. Sebelum menjadi penulis sukses, ia pernah mengalami betapa tidak enak dan sengsaranya bekerja di bidang pekerjaan yang tidak disukai. Dilahirkan di Missouri, AS, tahun 1897, Dale muda pergi ke kota New York pada 1923 guna mencari pekerjaan.

“Tiga puluh lima tahun yang lalu,” tulis Dale dalam pengantar bukunya How to Stop Worrying and Start Living, “saya adalah salah seorang anak muda yang paling tidak bahagia di New York. Saat itu saya berjualan motor truk untuk hidup. Saya tidak tahu apa yang membuat motor truk itu menyala. Tidak hanya itu: saya pun tidak mau tahu! Saya membenci pekerjaan saya. Saya benci harus tinggal di kamar murahan di West-Fifthy-Sixth Street yang penuh kecoa. Saya ingat, kala itu mempunyai setumpuk dasi yang tergantung di dinding. Pada waktu akan mengambil salah satunya di pagi hari, serombongan kecoa lari bertebaran ke segala arah. Saya benci harus makan di restoran yang murah, kumuh, dan mungkin juga penuh kecoa.”

Dale pulang setiap malam ke kamarnya dengan membawa sakit kepala. Sakit kepala yang tumbuh karena kekecewaan, kecemasan, kegetiran, dan pemberontakan di dalam dirinya. Ia memberontak karena semua mimpi yang ia bangun semasa kuliah dulu telah berubah menjadi mimpi buruk. “Apakah ini hidup?” tulisnya, “Apakah ini petualangan hidup yang selama ini saya tunggu dengan penuh harap? Apakah seperti ini hidup yang ditakdirkan bagi saya? Bekerja di bidang pekerjaan yang tidak saya sukai, tinggal bersama kecoa, makan makanan murahan, dan sama sekali tidak punya harapan akan masa depan?”

Dale merindukan waktu luang untuk membaca dan menulis seperti yang pernah diimpikan dan direncanakan semasa kuliah dulu. Ia tahu tidak ada ruginya baginya jika berhenti dari pekerjaannya sekarang. Karenanya, ia pun mengambil keputusan yang ternyata benar-benar mengubah seluruh masa depannya!

“Keputusan yang saya ambil adalah seperti ini: saya akan berhenti dari pekerjaan yang saya benci, dan karena saya telah menghabiskan empat tahun belajar mengajar di State Teachers College, Missouri, maka saya akan mencari nafkah dengan mengajar kursus di sekolah malam. Dengan demikian pada siang harinya saya akan bebas membaca buku, mempersiapkan bahan kursus, serta menulis novel dan cerita pendek. Saya ingin menulis untuk hidup dan hidup untuk menulis,” katanya.

Dale pun mulai melamar untuk menjadi pengajar public speaking pada kelas ekstensi malam di Universitas Colombia dan New York. Tapi kedua universitas besar tersebut ternyata menolak lamarannya.

“Saya benar-benar merasa kecewa saat itu, tapi sekarang saya justru bersyukur karena tidak lama kemudian saya mulai mengajar di sekolah malam YMCA. Di tempat itu saya harus menunjukkan hasil nyata dalam waktu singkat. Awalnya, saya merasa tidak nyaman dengan pekerjaan ini, tapi kini saya sadar bahwa saya tengah mendapat pelatihan yang amat berharga. Ini adalah pekerjaan yang menarik. Saya menyukainya. Kelas yang saya pimpin berhasil meraih kesuksesan jauh melampaui perkiraan yang paling optimistis sekalipun. Dalam tiga bulan, pihak YMCA yang awalnya menolak membayar lima dollar per malam untuk gaji saya, sekarang bersedia membayar tiga puluh dollar semalam berdasarkan persentase keuntungan,” tulisnya.

Mula-mula Dale hanya mengajarkan public speaking, tapi selang beberapa tahun ia pun sadar jika murid-muridnya membutuhkan kemampuan untuk menambah teman dan memengaruhi orang. Karena saat itu tidak ada buku teks yang memadai tentangnya, ia pun memutuskan untuk menulisnya sendiri. Selama bertahun-tahun buku How to Win Friends and Influence People yang ditulis Dale Carnegie berhasil menempati peringkat atas dalam daftar buku laris di Amerika dengan total penjualan lebih dari 15 juta eksemplar di seluruh dunia.

“Apakah saya bahagia karena telah membuat keputusan itu?” tanyanya, “Bahagia? Setiap kali saya berpikir tentang hal itu, saya merasa seperti sedang menari di jalanan dengan riang gembira!”

Menurut Paul W. Boynton, mantan Direktur HRD Socony Vacuum Oil Company, yang selama dua puluh tahun karirnya telah mewawancarai lebih dari tujuh puluh lima ribu orang pencari kerja, kesalahan terbesar yang biasa dilakukan anak muda yang mulai mencari kerja adalah mereka tidak tahu apa yang ingin dilakukan dalam hidupnya.

“Sungguh menyedihkan melihat orang-orang bersikap lebih teliti dan hati-hati pada saat akan membeli sepasang baju, yang dalam waktu beberapa tahun akan rusak, daripada ketika akan memilih pekerjaan yang sesungguhnya sangat menentukan masa depan mereka. Menentukan seluruh kebahagiaan dan kedamaian hidup mereka di masa yang akan datang.”

Pendapat serupa juga dikemukakan Edna Carr. Menurutnya, salah satu tragedi terbesar yang ia ketahui tentang orang yang mencari kerja adalah, “Begitu banyak anak muda yang tidak pernah tahu apa sebenarnya yang ingin mereka lakukan. Mereka berkata, ‘Saya memiliki gelar sarjana dari Dartmouth (atau master dari Cornell). Apakah ada pekerjaan yang bisa saya lakukan untuk perusahaan Anda?’”

Coba bayangkan! Mereka sendiri tidak tahu apa alasan melamar di perusahaan tersebut! Karenanya, tidaklah mengherankan, jika di antara sekian banyak pencari kerja, hanya sedikit saja yang akhirnya berhasil diterima kerja dalam waktu singkat. Sisanya, harus berulang-kali mengikuti tes seleksi kerja sebelum akhirnya mendapat pekerjaan yang diinginkan.

Jadi, sebelum memilih karir atau pekerjaan, pastikan dahulu bidang pekerjaan apa sebenarnya yang Anda minati. Apakah Anda ingin menjadi guru, fotografer, reporter, pengusaha, atau karyawan biasa. Semuanya berpulang pada diri Anda sendiri.

Sumber: Buku Kiat Jitu Mendapatkan Pekerjaan Idaman (Edwin Solahuddin, Penerbit Escaeva, 2008)

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.