Alice in Wonderland: Bab 10 – Kesaksian Alice

“Aku di sini!” teriak Alice. Ia kemudian melompat dengan buru-buru hingga mengacaukan tempat duduk juri, dan para juri jatuh jumpalitan dari kursinya. “Oh, maafkan aku!” ia berseru dengan nada cemas. “Sidang pemeriksaannya tidak bisa dilanjutkan, sebelum para juri kembali duduk dengan benar—semuanya seperti sedia kala,” tegas sang Raja sambil menatap Alice dengan geram. “Apa yang …

Alice in Wonderland: Bab 9 – Siapa yang Mencuri Kue Tart?

Raja dan Ratu Hati langsung duduk di singgasana setelah mereka tiba, dikelilingi banyaknya kerumunan yang berdesak-desakan— terdiri dari golongan berbagai jenis burung dan hewan buas, beserta satu set kartu remi juga (iring-iringan sang Ratu): si Ksatria berdiri di hadapan mereka, tangannya dirantai, dan didampingi dua pengawal; di sebelah Raja ada Kelinci putih yang membawa terompet …

Alice in Wonderland: Bab 7 – Acara Minum Teh yang Gila

Ada sebuah tatanan meja di bawah pohon tepat di depan rumah. March Hare (Kelinci Maret) dan Hatter (Pembuat topi) terlihat sedang menikmati teh di sana;  sementara tikus Dormouse duduk diantara mereka dan tertidur pulas. Meja tersebut sesungguhnya besar, namun mereka bertiga duduk merapat di salah satu sudutnya. “Sudah penuh! Tidak ada ruang lagi!” teriak mereka …

Alice in Wonderland: Bab 6 Babi dan Merica

Selama beberapa waktu Alice berdiri menatap rumah tersebut,  tiba-tiba terlihat ada seorang pelayan berseragam rapi yang muncul dari arah hutan (jika ditinjau dari mukanya, pelayan itu berkepala ikan)— ia mengetuk pintu dengan buku jari keras-keras. Kemudian ada pelayan lain (yang juga berseragam) membukakan pintu itu, wajahnya bulat dan bermata besar seperti kodok. Mula-mula pelayan berkepala …

Alice in Wonderland: Bab 3 – Caucus-race dan Cerita yang Panjang

Mereka seperti gerombolan aneh yang berkerumun di tepi kolam— burung-burung dengan sayap kumal, hewan-hewan lain dengan bulu dekil; semua basah kuyup, terlihat kesal dan tidak nyaman. Tentu saja, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah: ‘bagaimana supaya tubuh mereka kembali kering?’. Mereka merembukkan hal tersebut dan beberapa saat kemudian, Alice tampaknya sangat terbiasa mengobrol akrab dengan …

Alice in Wonderland: Bab 2 – Kolam Air Mata

“Semakin aneh dan aneh saja!” teriak Alice (ia begitu terkejut hingga sesaat dirinya agak lupa cara berbicara dengan benar). “Sekarang tubuhku meregang bagaikan teleskop terbesar yang pernah ada! Sampai jumpa, kaki! (Alice semakin tumbuh hingga kesulitan melihat kakinya sendiri. Ini adalah efek dari kue.) Oh, kaki kecilku yang malang, siapa nanti yang akan memakaikan sepatu …

Alice in Wonderland: Bab 1 – Terperosok dalam Lubang Kelinci

Alice mulai penat hanya duduk diam di dekat kakaknya yang membaca buku di tepi sungai. Adakalanya ia mengintip buku tersebut, tapi di dalamnya tidak ada gambar maupun percakapan, “Apa gunanya buku jika tanpa gambar dan dialog?” pikir Alice. Kemudian ia termenung (sebisa mungkin berangan-angan karena hari itu membuatnya ngantuk dan merasa bodoh), ‘apakah asyiknya membuat …

Alice in Wonderland: Bab V—Petunjuk dari Ulat Bulu

Pada akhirnya Ulat itu mengeluarkan pipa hookah dari mulutnya dan menegur Alice dengan suara lesu mengantuk. “Siapa kau?” tanya Ulat. Alice menjawab agak segan, “Aku—Aku tidak begitu mengerti dengan diriku yang sekarang, Tuan—setidaknya saat bangun tadi pagi aku masih tau jati diriku, tapi sepertinya aku sudah berubah beberapa kali sejak itu.” “Apa maksud ucapanmu?” timpal …

Alice in Wonderland: Bab IV— Kelinci menugasi Bill kecil

Kelinci Putih berderap pelan sambil terlihat cemas mencari-cari sesuatu, seolah-olah ia sedang kehilangan barang; Alice mendengarnya berkomat-kamit sendiri, “Dutchess1! Dutchess! Oh, cakarku! Oh, bulu dan kumisku. Dia pasti akan menghabisi aku, persis seperti si musang! Aku heran, dimana ya aku menjatuhkannya?” Sejenak Alice menduga kalau ia sedang mencari kipas dan sepasang sarung tangan putih, lalu …