home Artikel Tips Bisnis Tips Mengikuti Wawancara Kerja

Tips Mengikuti Wawancara Kerja

Sekarang, setelah semuanya selesai, tibalah saat yang ditunggu-tunggu, yaitu tes wawancara atau interview. Setelah psikotes, interview adalah tes paling angker dan paling ditakuti para pencari kerja. Pasalnya, pada saat interview ini Anda benar-benar sendiri. Anda tidak bisa bergantung kepada orang lain. Anda dituntut mampu berpikir cepat dan logis dalam menjawab pertanyaan yang diajukan.

Sama seperti tes lainnya, kunci agar bisa berhasil adalah dengan banyak berlatih, dan berlatih terus. Interview adalah tahapan terakhir atau pamungkas dalam proses mencari kerja. Setelah memilih bidang pekerjaan, mencari lowongan, mengirim berkas lamaran, mengikuti psikotes, dan menjalani tes bidang, akhirnya Anda tiba di satu pintu terakhir yang akan menentukan apakah akan diterima bekerja atau tidak. Sekarang adalah saat paling menentukan dalam hidup Anda! Anda harus mengerahkan seluruh kelebihan dan kemampuan yang dimiliki di sini.

Bentuk tes wawancara bermacam-macam. Ada satu lawan satu; satu dengan beberapa orang; wawancara kelompok; dan banyak lagi. Apapun bentuknya, Anda harus mampu menunjukkan kemampuan dan kelebihan di sini. Anda harus dapat meyakinkan pihak perusahaan jika Anda pantas dan layak menempati posisi itu. Bukan hanya di atas kertas, tapi dalam arti sebenarnya. Inilah “pertarungan” sesungguhnya!

Hal yang seringkali dilupakan para pencari kerja adalah wawancara ini sifatnya dua arah, bukan satu arah. Pihak perusahaan mengundang Anda karena tertarik dengan kemampuan Anda. Jika Anda mampu membuktikan kemampuan yang dimiliki kepada mereka, bukan hanya Anda yang mengharapkan pekerjaan tersebut, tapi justru pihak perusahaanlah yang menginginkan Anda bergabung bersama mereka. Saya pernah mengalaminya beberapa kali.

Tips Agar Berhasil dalam Wawancara. Saat melakukan wawancara, Anda harus mampu menampilkan sikap positif. Tunjukkanlah kepada mereka jika Anda merasa antusias dan bersemangat untuk bekerja di perusahaan tersebut. Apalagi jika Anda lulusan baru yang belum berpengalaman. Satu-satunya yang bisa ditawarkan kepada perusahaan, selain kemampuan Anda, adalah semangat tinggi dan kemauan bekerja keras. Pihak perusahaan, biasanya sangat menghargai kedua hal tersebut. Tidak ada salahnya jika Anda bersikap sedikit ”tegas” di sini. Misal, saat ditanya, ”Apakah Anda yakin mampu melakukan pekerjaan ini?” Anda langsung menjawab, ”Iya Pak!” atau ”Siap, Pak!”

Selanjutnya, Anda harus benar-benar yakin dengan kemampuan yang dipunyai. Ketika memasuki ruang wawacara, majulah dengan keyakinan Anda akan diterima. Bahwa Anda layak menempati posisi tersebut. Jangan sekali-kali menampilkan sikap negatif, rendah diri, takut, ragu, dan sebagainya. Sekarang adalah saat paling penting dalam hidup Anda. Jadi, bersikaplah bak ksatria. Tunjukkan semangat Anda. Anggap semuanya hanya hal kecil. Sebuah hal remeh, mudah, dan bukan masalah besar bagi Anda.

Kunci agar berhasil dalam tes wawancara adalah dengan menunjukkan kepada perusahaan bahwa Anda bersemangat dan percaya diri. Menurut Kay Gilles, penulis buku Leading from the Heart, perusahaan umumnya menyukai karyawan yang enerjik. Mereka menginginkan karyawan yang antusias, bersemangat, dan mempunyai inisiatif. Mereka mengharapkan karyawan yang mencintai pekerjaannya, yaitu karyawan yang sepenuh hati melaksanakan tugas-tugasnya.

Mereka menginginkan karyawan yang peduli terhadap perusahaan. Karyawan yang sanggup bekerja sama untuk kemajuan perusahaan. Mereka mendambakan karyawan yang bersemangat dan memiliki komitmen. Mereka menghendaki kepercayaan. Jadi, tunjukkan semua itu kepada mereka saat Anda dipanggil wawancara. Tunjukkan jika Anda seorang yang bersemangat. Tunjukkan bahwa Anda senang jika diberi kesempatan bekerja di perusahaan mereka.

Secara umum, ada dua hal yang menjadi fokus pertanyaan pihak pewawancara, yaitu diri dan kemampuan Anda. Semua pertanyaan yang diajukan saat wawancara diambil dari lembar application form dan CV yang telah dibuat. Ada kalanya pewawancara mengajukan pertanyaan lain untuk menguji mental dan kemampuan Anda. Mereka akan ”mengintimidasi” Anda, mendesak Anda, meremehkan Anda, dan sebagainya. Jangan terpancing! Semuanya hanya taktik mereka untuk memancing dan membongkar karakter Anda yang sesungguhnya.

Gaya yang dipakai masing-masing pewawancara berbeda-beda. Ada yang bersikap formal, setengah formal, dan informal. Apapun itu, usahakan Anda tetap bersikap formal, profesional, fleksibel, yakin, dan percaya diri. Namun, jangan berlebihan, karena malah akan menimbulkan kesan sombong atau arogan.

Agar terhindar dari jebakan pewawancara, usahakan memberi jawaban singkat, langsung ke sasaran, dan tidak bertele-tele. Jangan terpancing jika mereka mencoba membangkitkan emosi Anda atau memainkan perasaan Anda. Jangan pernah membicarakan hal-hal negatif atau pribadi, termasuk tentang atasan, pekerjaan, atau perusahaan lama Anda. Hindari melontarkan keluhan, perasaan kecewa, cerita-cerita kelabu, dan semacamnya. Selalu berikan jawaban dalam nada yang positif dan optimis. Jika mereka mencoba mementahkan jawaban Anda, atau pura-pura meragukan kemampuan Anda, bantahlah dengan baik, tanpa memakai emosi atau perasaan. Tunjukkan kepada mereka jika Anda seorang yang mampu dan handal.

Pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan saat wawancara. Bagi para pemula, wawancara seringkali menjadi ”hantu” menakutkan. Saya pun pernah mengalaminya. Namun, seiring perjalanan waktu, dan semakin sering mengikuti wawancara, perasaan tegang dan berdebar-debar akan hilang dengan sendirinya. Anda bahkan bisa sambil tertawa ketika menghadapinya.

Ada beberapa hal yang harus diingat saat mengikuti wawancara, yaitu:

1) Usahakan, sebelum menghadapi wawancara, Anda sudah mengetahui ruang lingkup pekerjaan yang dilamar. Misal, Anda melamar menjadi guru atau reporter. Cobalah mencari tahu sebelumnya segala sesuatu terkait pekerjaan guru atau reporter. Apa saja ruang lingkup tugasnya? Keterampilan apa saja yang dibutuhkan? Dan sebagainya.

2) Cobalah mencari tahu segala sesuatu tentang perusahaan yang dilamar. Pengetahuan tentang perusahaan ini sangat penting karena akan berguna saat Anda mengikuti wawancara. Pihak pewawancara umumnya akan senang jika calon pelamar memahami ruang lingkup tugasnya dan sedikit banyak mengetahui sejumlah hal tentang perusahaan mereka.

Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, pertanyaan yang diajukan saat wawancara umumnya sama saja. Saya pernah bekerja full time, part time, mandiri, di industri makanan, retail, jasa, penerbitan buku, majalah, baik sebagai sales, kasir, teknisi, penulis, penerjemah, reporter, copywriter, maupun editor. Satu hal yang saya temukan adalah pertanyaan yang diajukan saat wawancara relatif sama!

Berikut daftar pertanyaan yang sering muncul saat wawancara:

1) Coba ceritakan tentang diri Anda? Di sini Anda diminta menceritakan tentang diri Anda, mulai dari nama, tempat tanggal lahir, sekolah, hingga pengalaman kerja. Misalnya, nama saya Shanti Fajar Wati. Saya lahir di Makassar tanggal 16 Agustus 1979. Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Ayah saya seorang pegawai negeri, ibu seorang ibu rumah tangga biasa. Saya lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada tahun 2004.

2) Apa saja tugas Anda pada pekerjaan sebelumnya? Ceritakan kepada mereka mengenai tugas Anda pada pekerjaan sebelumnya. Tidak perlu terlalu panjang, cukup garis besarnya saja. Jika Anda seorang fresh graduate, pertanyaan yang lazim diajukan adalah, ”apa yang Anda temukan pada skripsi Anda?” Ceritakanlah kepada mereka tentang topik skripsi Anda. Tidak perlu detil, cukup abstraksi dan kesimpulannya saja.

3) Apa yang membuat Anda tertarik melamar pekerjaan ini? Katakan kepada mereka jika Anda menyukai bidang pekerjaan tersebut. Katakan jika pekerjaannya sesuai dengan minat Anda atau latar belakang pendidikan Anda (jika memang sesuai). Misal, apabila melamar menjadi guru, katakan jika Anda menyukai bidang pendidikan dan pengajaran. Tunjukkan kepada mereka jika Anda sangat antusias dan bersemangat untuk bekerja di bidang pekerjaan tersebut.

4) Apakah Anda sudah tahu ruang lingkup tugas nantinya? Atau apa yang Anda ketahui tentang bidang pekerjaan ini? Ceritakanlah semua hal yang diketahui tentang bidang pekerjaan tersebut. Di sinilah pentingnya Anda mencari tahu terlebih dahulu tentang bidang pekerjaan yang dilamar sebelum mengirim berkas lamaran.

5) Apa kelebihan Anda? Carilah satu kelebihan yang relevan dengan bidang pekerjaan yang dilamar. Misal, jika Anda melamar menjadi reporter, katakan jikaAnda mempunyai keahlian dalam bidang tulis-menulis, dan seterusnya.

6) Apa kelemahan Anda? Carilah satu kelemahan yang tidak ada hubungannya dengan bidang pekerjaan yang dilamar atau kalau bisa malah mendukung hal itu. Misal, jika Anda melamar bidang pekerjaan yang mengharuskan sering berpergian dan bertemu banyak orang, seperti sales atau reporter, katakan kepada mereka jika Anda orangnya tidak bisa diam, ingin selalu beraktivitas, dan seterusnya.

7) Pengalaman apa yang paling berkesan dalam hidup Anda? Ceritakanlah pengalaman paling berkesan dalam hidup Anda. Pilihlah pengalaman yang positif dan konstruktif serta menghasilkan sesuatu. Misal, saat diwisuda atau ketika Anda memenangkan perlombaan. Jika ditanya alasannya, katakan karena setelah bekerja keras sekian lama akhirnya Anda berhasil meraih cita-cita Anda.

Kevin Murphy, konsultan dan komisaris Effective Listening Institute yang berlokasi di Boston, pernah mewawancarai seorang kandidat untuk posisi humas di sebuah industri manufaktur. Saat ditanya, ”Apa pengalaman paling berkesan dalam hidup Anda?”, sang kandidat menjawab, ”Saat saya bekerja di sebuah rumah pertanian di Vermont. Saya benar-benar menyukainya. Tidak ada orang, tidak ada telepon, tidak ada gangguan!” Saat itu juga Murphy langsung menyarankan kepada direktur perusahaan untuk mencoretnya. Penyebabnya, minat dan kepribadian orang tersebut dinilai tidak cocok dengan pekerjaan yang akan disandangnya.

8) Pengalaman apa yang paling menyedihkan dalam hidup Anda? Di sini jangan sekali-kali Anda menceritakan hal-hal yang sifatnya pribadi. Pilihlah pengalaman yang netral. Misal, saat Anda melamar kerja dan belum berhasil mendapatkan pekerjaan. Alasannya karena Anda tidak bisa mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki, tidak bisa membalas budi orang tua, dan seterusnya.

9) Apa yang Anda lakukan untuk mengatasinya? Katakan jika Anda terus berusaha mendapatkan pekerjaan seperti yang sedang dilakukan saat itu.

10) Pekerjaan apa yang paling Anda sukai? Jawaban untuk pertanyaan ini mudah saja, yaitu disesuaikan dengan bidang pekerjaan yang dilamar. Jika ditanya alasannya karena Anda berminat dengan bidang pekerjaan tersebut atau karena pekerjaannya berguna dan menantang bagi Anda.

11) Pekerjaan apa yang paling tidak Anda sukai? Pilihlah satu bidang pekerjaan yang berlawanan dengan bidang pekerjaan yang dilamar. Jika bidang pekerjaan yang dilamar mengharuskan Anda aktif seperti sales atau reporter, pilihlah bidang pekerjaan yang berlawanan seperti guru atau staf administrasi. Begitu pula sebaliknya. Pastikan untuk mempersiapkan jawabannya jika ditanya alasannya!

12) Mengapa Anda layak menempati posisi ini? Katakan jika Anda benar-benar berminat dengan bidang pekerjaan tersebut. Katakan jika Anda yakin bisa melakukan pekerjaan tersebut karena sesuai dengan keahlian, pengalaman, atau latar belakang pendidikan Anda (jika memang sesuai). Katakan jika Anda seorang yang cepat belajar, sehingga sekalipun bidang pekerjaannya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan atau pengalaman, Anda yakin bisa mempelajarinya dalam waktu singkat. Katakan jika Anda sudah memahami semua ruang lingkup tugasnya dan yakin bisa melakukannya.

Ingat, ini bukan pertanyaan sungguhan! Anda boleh sedikit sombong di sini, selama ada dasarnya. Pastikan mereka teryakinkan dengan kemampuan Anda. Jangan lupa, Anda harus mampu menghargai diri sendiri sebelum orang lain menghargai Anda. Jika Anda sendiri memandang rendah diri Anda, bagaimana mungkin orang lain akan menghargai Anda? Jika Anda sendiri tidak yakin, bagaimana mungkin orang lain akan yakin terhadap Anda?

13) Ceritakan tentang keluarga Anda? Nilai-nilai apa yang diajarkan oleh keluarga Anda? Ceritakanlah kepada mereka tentang keluarga Anda, mulai dari ayah, ibu, hingga saudara kandung Anda. Jangan terlalu panjang, cukup menceritakan tentang pendidikan dan pekerjaan mereka.

14) Apa yang Anda lakukan di waktu luang? Berikan jawaban positif, seperti membaca, menulis, berorganisasi, mengikuti kursus, dan sebagainya. Perusahaan umumnya menyukai karyawan yang aktif, ceria, mudah bergaul, dan memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Mereka kurang menyukai karyawan yang tertutup, pemurung, dan individual.

15) Apa yang ingin dilakukan dalam hidup Anda? Gambarkan diri Anda lima tahun mendatang? Usahakan memberi jawaban yang selaras dengan bidang pekerjaan yang dilamar. Misal, jika melamar menjadi reporter, katakanjika Anda ingin menjadi seorang reporter atau penulis yang berhasil. Apabila melamar menjadi guru, katakan jika dalam lima tahun mendatang Anda berharap bisa menjadi seorang kepala sekolah.

Perusahaan biasanya tidak mau menanggung resiko menerima karyawan yang tidak fokus pada pekerjaannya. Anda dipanggil untuk satu tujuan. Karenanya, Anda harus bisa menjelaskan kepada mereka jika Anda mempunyai tujuan yang sejalan dengan perusahaan. Bahwa Anda mempunyai minat dan visi yang sama dengan perusahaan.

16) Mengapa Anda berhenti dari pekerjaan lama Anda? Di sini jangan sekali-kali Anda mengeluarkan komentar negatif tentang pekerjaan lama Anda, seperti misalnya bos Anda begini-begini, atau lingkungan kerjanya begini-begini. Berikanlah jawaban yang positif dan netral, seperti ingin mengembangkan karir, pindah domisili, dan seterusnya.

Jika saat itu Anda masih bekerja, usahakan untuk tidak menceritakannya kepada perusahaan sekalipun itu hanya pekerjaan lepas. Perusahaan umumnya kurang menyukai hal ini. Mereka menginginkan karyawan yang fokus pada pekerjaannya. Mereka mengharapkan karyawan yang loyal dan setia. Mereka mendambakan karyawan yang mampu berkomitmen.

17) Berapa gaji yang Anda inginkan? Bagi lulusan baru, akan lebih aman jika Anda tidak mengungkapkan nilai nominal di sini. Ingat, ini bukan pertanyaan sungguhan! Mereka sejatinya sudah memiliki standar gaji sendiri. Ini hanya tes bagi Anda. Seberapa besar Anda menghargai diri Anda. Jawab saja, ”sesuai kebijakan perusahaan dan kualifikasi saya”. Jika mereka menakut-nakuti dengan mengatakan gajinya kecil, dan sebagainya, katakan saja, Anda percaya sepenuhnya kepada kebijakan perusahaan. Anda yakin perusahaan sudah mempunyai mekanisme gaji sendiri yang pastinya telah standar dan memadai.

Agar bisa melewati tahap wawancara dengan baik, cobalah menuliskan daftar pertanyaan di atas berikut jawabannya pada secarik kertas. Ajaklah seorang teman untuk melakukan simulasi wawancara. Bacakan pertanyaan dan jawabannya dengan suara keras. Teruslah berlatih hal ini setiap harinya. Cobalah membiasakan diri dengan semua pertanyaan dan jawabannya. Dengan semakin sering berlatih, Anda akan semakin terbiasa dan tidak canggung lagi saat menghadapi wawancara. Anda akan lebih fokus, lebih mantap, lebih terarah, dan tidak akan terjebak oleh berbagai pertanyaan kamuflase yang diajukan pewawancara.

Sekali lagi tentang wawancara. Sama seperti saat psikotes, ada beberapa aturan yang harus diingat ketika menghadapi wawancara, yaitu:

1) Jaga penampilan Anda. Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, penampilan sangatlah penting. Kesan pertama sangat menentukan. Jadi, tampilah serapih mungkin. Untuk laki-laki, kenakanlah kemeja, celana panjang, dan sepatu agar Anda terlihat sopan dan meyakinkan. Pastikan baju Anda bersih, tidak kusut, tidak berlubang, dan tidak ada kancing yang hilang.

2) Datanglah ke tempat wawancara beberapa menit lebih awal, idealnya setengah jam, sehingga Anda bisa mengatur nafas dan menenangkan diri dahulu.

3) Jangan merokok atau mengunyah permen.

4) Setelah tiba di ruangan, perkenalkan diri Anda kepada resepsionis, satpam, atau penjaga di sana. Sebutkan nama Anda. Beritahukanlah kepada mereka jika Anda diundang wawancara.

5) Saat diminta masuk ke dalam ruangan, masuklah dengan penuh keyakinan Anda akan diterima. Berikan senyum kepada semua orang di sana. Jabat tangan mereka dengan erat dan jangan langsung duduk sebelum diminta! Jabatan tangan yang erat akan menunjukkan jika Anda seorang yang tangguh dan bisa diandalkan.

6) Duduklah dengan posisi rileks dan taruh tas Anda di bawah. Jangan bersandar ke belakang atau menaruh tangan di meja. Ambil jarak yang cukup dengan pewawancara. Jangan terlalu dekat, namun jangan pula terlalu jauh. Kira-kira 60 cm. Anda harus duduk tegak di atas kursi. Jangan duduk dengan menumpang kaki atau meluruskan kaki ke depan, dan jangan terlalu banyak melakukan gerakan yang tidak perlu!

7) Tataplah mata pewawancara secara alami ketika berbicara atau mendengarkan. Jangan menunduk atau mengalihkan pandangan kemana-mana. Bahasa tubuh sangatlah penting karena bisa menunjukkan karakter seseorang. Apakah ia menghormati lawan bicaranya atau tidak. Apakah Anda menyimak topik yang sedang dibahas atau tidak.

8) Jawablah pertanyaan yang diajukan dengan singkat sesuai jawaban yang telah dipersiapkan sebelumnya. Jangan tergoda untuk bertindak kreatif dengan melakukan berbagai macam improvisasi. Jika tidak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan, mintalah kepada pewawancara untuk menjelaskannya lagi kepada Anda.

9) Tetaplah bersikap formal dan profesional sekalipun pihak pewawancara berusaha memancing Anda dengan bersikap informal. Jangan mencoba melawak atau bersikap ”sok” akrab dengan pihak pewawancara. Sebaliknya, Anda juga jangan bersikap terlalu dingin atau angkuh Ingat, semua sikap dan ucapan Anda akan dinilai oleh mereka.

10) Usahakan memberi jawaban positif dan membangun. Jangan membicarakan hal negatif tentang apapun, termasuk tentang pekerjaan atau bos lama Anda.

11) Tunjukkanlah sikap penuh percaya diri, ceria, dan optimis saat berhadapan dengan pihak pewawancara.

12) Cobalah bersikap jujur dan apa adanya. Jangan berusaha menjadi orang lain, atau bersikap manis dan palsu guna mengambil muka pewawancara. Tetaplah menjadi diri Anda sendiri! ”Kesalahan terbesar yang dilakukan orang saat melamar kerja,” kata Paul W. Boynton, ”adalah dengan tidak menjadi diri sendiri. Bukannya bersikap jujur dan apa adanya, seringkali para calon pelamar berusaha memberikan jawaban yang menurut mereka Anda inginkan.” Sam Wood, sutradara film Hollywood yang pernah bekerja di bidang real estat mengatakan, ”Pengalaman mengajarkan kepada saya untuk langsung mencoret calon pelamar yang berusaha menjadi orang lain.”

13) Jangan menanyakan tentang masalah gaji, jam kerja, fasilitas, dan semacamnya. Semua itu akan dijelaskan kepada Anda jika sudah diterima bekerja.

14) Ketika wawancara selesai, ucapkan terima kasih, jabat tangan mereka dan pamitlah dengan sopan. Sapalah resepsionis dan satpam yang ada di luar. Jangan lupa untuk tetap tersenyum.

15) Setelah tiba di rumah, cobalah mengingat kembali semua jawaban Anda. Di mana kira-kira kesalahan Anda. Hal-hal apa saja yang masih perlu diperbaiki di masa depan.

Wawancara adalah tahap terakhir dari proses mencari kerja. Anda telah memilih bidang pekerjaan, mengirim berkas lamaran, dan kini Anda diundang untuk bertatap muka dengan pihak perusahaan. Mereka tertarik dengan Anda! Jangan sia-siakan kesempatan ini. Sekarang adalah saatnya bagi Anda untuk mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Berusahalah melihat segala sesuatu dari sudut pandang perusahaan. Anda harus menunjukkan sanggup berpikir logis, paham sepenuhnya tugas dan pekerjaan, serta dapat memberikan kontribusi berarti bagi perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.